Jakarta,, Gesuri.id – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, mengajak Generasi Z untuk membangun pola pikir kritis dan tidak menjadikan perspektif Barat sebagai satu-satunya tolok ukur dalam menilai pengetahuan, pendidikan, dan kemajuan suatu bangsa.
Pesan tersebut disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik bagi Generasi Z di Universitas Bung Karno, Rabu (4/11/2026).
Bonnie menjelaskan bahwa salah satu warisan kolonialisme yang masih bertahan hingga saat ini adalah dominasi dalam produksi pengetahuan. Kondisi tersebut dapat membuat masyarakat cenderung menganggap pengetahuan yang berasal dari negara-negara Barat sebagai standar utama, sementara pengetahuan lokal kurang mendapatkan pengakuan.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai captive mind, yaitu kondisi ketika pola pikir masyarakat terbelenggu oleh kerangka pengetahuan dominan sehingga kurang memberikan ruang bagi perspektif dan pengalaman dari lingkungan sendiri.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

"Tanpa kita sadari, kita sering kali terbelenggu oleh cara berpikir yang menganggap bahwa kebenaran dan pengetahuan harus selalu berasal dari Barat. Padahal, pengetahuan lokal juga memiliki nilai dan kontribusi yang harus diakui," ujar Bonnie.
Dalam pemaparannya, Bonnie memberikan contoh mengenai masyarakat adat yang memiliki kemampuan menjaga lingkungan, membangun rumah, membuat jembatan, serta mengelola sumber daya alam berdasarkan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.
Namun, pengetahuan tersebut terkadang tidak memperoleh pengakuan karena tidak sesuai dengan standar pendidikan formal yang digunakan secara umum.
Ia menilai negara perlu memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap pengetahuan masyarakat adat sebagai bagian dari kekayaan intelektual bangsa.
Bonnie juga menyoroti pentingnya konsep pluriversalitas, yakni pengakuan terhadap keberagaman sumber pengetahuan dan pengalaman masyarakat di seluruh dunia. Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan tidak seharusnya hanya berpusat pada satu perspektif atau wilayah tertentu.
Selain persoalan pengetahuan, Bonnie menghubungkan kemandirian berpikir dengan gagasan Soekarno mengenai Trisakti, khususnya prinsip berkepribadian dalam kebudayaan.
Ia menjelaskan bahwa Soekarno mendorong kebudayaan nasional berkembang dengan tetap berpijak pada identitas bangsa, tanpa sekadar meniru kebudayaan asing maupun mempertahankan tradisi secara kaku.
Bonnie mencontohkan bagaimana kesenian rakyat dapat dikembangkan melalui kreativitas dan inovasi sehingga tetap memiliki identitas lokal sekaligus mampu mengikuti perkembangan zaman.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
"Budaya tradisional tidak harus ditinggalkan, tetapi juga tidak cukup hanya dipertahankan sebagaimana adanya. Kebudayaan perlu dikembangkan melalui kreativitas sehingga dapat melahirkan bentuk baru tanpa kehilangan identitasnya," jelasnya.
Menurut Bonnie, pemikiran tersebut penting bagi Generasi Z yang hidup di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi. Generasi muda perlu memiliki kemampuan menyaring berbagai pengaruh luar sekaligus mengembangkan potensi pengetahuan dan kebudayaan nasional.
Ia berharap mahasiswa Universitas Bung Karno dapat menjadi generasi yang tidak hanya memahami perkembangan geopolitik dunia, tetapi juga memiliki kesadaran sejarah, menghargai pengetahuan lokal, dan mampu membangun identitas bangsa di tengah perubahan global.
Melalui pemahaman tersebut, penguatan literasi geopolitik diharapkan tidak hanya menghasilkan generasi yang memahami persaingan antarnegara, tetapi juga generasi yang mampu melihat pentingnya kedaulatan pengetahuan dan kebudayaan Indonesia.

















































































