Jakarta, Gesuri.id – Mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI periode 2022–2023, Andi Widjajanto, mengajak Generasi Z untuk meningkatkan literasi geopolitik serta mengambil peran aktif dalam menjaga dan memperkuat demokrasi Indonesia.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik bagi Generasi Z di Universitas Bung Karno, Rabu (4/11).
Dalam pemaparannya, Andi menjelaskan bahwa generasi muda saat ini tumbuh di tengah berbagai dinamika global yang penuh ketidakpastian. Mulai dari serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat, krisis keuangan global 2008, pandemi COVID-19 pada 2020, hingga berbagai konflik geopolitik yang terus berkembang.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang tumbuh di tengah berbagai peristiwa besar yang berpotensi mengubah tatanan dunia.
"Teman-teman sebetulnya lahir sebagai generasi angsa hitam. Dunia berkali-kali dikejutkan oleh sesuatu yang buruk, dan ke depan kalian akan menghadapi pembelajaran-pembelajaran yang lebih keras," ujar Andi.
Ia kemudian memperkenalkan konsep black swan atau angsa hitam dalam kajian geopolitik. Konsep tersebut menggambarkan peristiwa yang sulit diprediksi, memiliki kemungkinan terjadi relatif kecil, tetapi ketika muncul dapat menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat, ekonomi, maupun tatanan politik dunia.
Andi juga menjelaskan perbedaan fenomena angsa hitam dengan sejumlah konsep risiko lainnya, seperti gray rhino atau badak abu-abu, yang menggambarkan ancaman besar yang sebenarnya sudah terlihat, tetapi kerap diabaikan.
Ia mencontohkan persoalan utang negara, lemahnya kapasitas industri, serta berbagai persoalan struktural yang dapat dikenali sejak awal, tetapi sering kali tidak mendapatkan perhatian yang memadai.
"Kalau angsa hitam itu sesuatu yang tidak bisa kita ramalkan. Peluangnya kecil, tetapi dampaknya ekstrem. Begitu terjadi, perubahan yang ditimbulkan bisa sangat besar," jelasnya.
Lebih lanjut, Andi menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dinilainya menjadi salah satu faktor penting dalam perubahan lanskap ekonomi dan geopolitik dunia. Menurutnya, penguasaan teknologi akan semakin menentukan posisi suatu negara dalam persaingan global.
Selain AI, ia turut menyinggung perkembangan komputasi kuantum atau quantum computing yang berpotensi membawa perubahan besar terhadap sistem keamanan informasi dan komunikasi digital. Teknologi tersebut, apabila berkembang sesuai proyeksi, dapat memengaruhi sistem enkripsi, termasuk perlindungan data pribadi dan komunikasi elektronik.
Dalam konteks tersebut, Andi mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami perkembangan dan implikasinya terhadap keamanan nasional serta kedaulatan digital Indonesia.
Ia juga menghubungkan dinamika geopolitik global dengan situasi politik nasional. Menurutnya, perubahan politik di berbagai negara, konflik internasional, hingga ketidakstabilan ekonomi dunia dapat memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap Indonesia.
Generasi Z dan Masa Depan Demokrasi
Selain membahas geopolitik global, Andi memberikan perhatian khusus terhadap posisi Generasi Z dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Ia menyebut bahwa generasi muda di berbagai negara mulai menunjukkan keterlibatan dalam gerakan sosial dan politik.
Menurut pemaparannya, fenomena gerakan Generasi Z telah berkembang di sejumlah negara sejak 2024. Ia menilai dinamika tersebut perlu dicermati karena menunjukkan adanya perubahan dalam pola partisipasi politik generasi muda di berbagai belahan dunia.
Dalam konteks Indonesia, Andi berpandangan bahwa Generasi Z memiliki posisi strategis dalam menentukan arah perubahan politik dan demokrasi nasional, terutama menjelang Pemilu 2029.
Ia mengingatkan bahwa proses Reformasi 1998 yang turut diperjuangkan oleh Generasi X telah menghasilkan perubahan besar, tetapi konsolidasi demokrasi masih menjadi pekerjaan yang perlu dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
"Kami, Generasi X, berhasil menginisiasi Reformasi dan mengakhiri kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun. Namun, kami gagal menuntaskan konsolidasi demokrasi. Saya berharap tugas tersebut bukan lagi dilakukan oleh kami, tetapi oleh kalian, Generasi Z," ungkapnya.
Andi juga mengakui bahwa generasinya memiliki sejumlah pekerjaan rumah dalam perjalanan reformasi, termasuk upaya memperkuat institusi demokrasi dan memastikan reformasi berjalan secara berkelanjutan.
Karena itu, ia menilai Pemilu 2029 akan menjadi salah satu momentum penting bagi Generasi Z untuk berkontribusi dalam memperkuat demokrasi Indonesia.
Menurutnya, generasi muda perlu mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan perubahan politik dan sosial pada periode 2027–2029. Hal ini penting mengingat dinamika geopolitik yang tidak selalu dapat diprediksi.
"Angsa hitam itu tidak bisa diramalkan. Tiba-tiba dia terbang, dan ketika itu terjadi, dampaknya bisa terasa di mana-mana. Karena itu, kalian harus mempersiapkan diri. Namun, jalan untuk konsolidasi demokrasi sudah tersedia," tegas Andi.

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Ia kemudian mencontohkan pengalaman Serbia dalam gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil sebagai salah satu referensi mengenai keterlibatan generasi muda dalam mendorong perubahan politik.
Menutup pemaparannya, Andi berpesan agar Generasi Z dapat belajar dari pengalaman dan kesalahan generasi sebelumnya. Ia berharap generasi muda mampu melanjutkan agenda reformasi dengan memperkuat partisipasi publik, menjaga nilai-nilai demokrasi, serta memahami perubahan geopolitik yang terus berlangsung.
"Geopolitik saat ini sedang memberikan ruang bagi teman-teman. Mudah-mudahan peluang dan momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat konsolidasi demokrasi kita," pungkasnya.
Melalui kegiatan Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik ini, mahasiswa Universitas Bung Karno diharapkan dapat memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai dinamika hubungan internasional, tantangan keamanan global, perkembangan teknologi, serta keterkaitannya dengan masa depan bangsa dan demokrasi Indonesia.

















































































