Ikuti Kami

Bonnie Triyana Tegaskan Pemikiran Geopolitik Soekarno Masih Relevan Hadapi Dominasi Global

Gagasan tersebut perlu dipelajari kembali oleh generasi muda sebagai landasan membangun kemandirian dan kedaulatan bangsa.

Bonnie Triyana Tegaskan Pemikiran Geopolitik Soekarno Masih Relevan Hadapi Dominasi Global
Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana.

Jakarta, Gesuri.id – Pemikiran geopolitik Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dinilai masih relevan untuk memahami dinamika hubungan internasional dan menghadapi berbagai bentuk dominasi global.

Gagasan tersebut perlu dipelajari kembali oleh generasi muda sebagai landasan membangun kemandirian dan kedaulatan bangsa.

Hal itu disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, dalam kegiatan Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik bagi Generasi Z di Universitas Bung Karno, Rabu (4/11).

Dalam pemaparannya, Bonnie menjelaskan bahwa Soekarno sejak muda telah memiliki pemikiran kritis mengenai hubungan antara kemerdekaan politik dan dominasi sistem ekonomi global.

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

Menurutnya, persoalan yang dihadapi Indonesia bukan semata-mata berkaitan dengan negara tertentu, melainkan sistem kapitalisme dan imperialisme yang menciptakan ketimpangan antarbangsa.

"Yang dikritik Soekarno bukan Amerika atau masyarakat Amerika, melainkan sistem kapitalisme dan imperialisme. Gagasan pemikirannya sejak awal sudah memperlihatkan bagaimana ia ingin menyatukan kekuatan dunia untuk menghadapi sistem yang menciptakan ketimpangan," ujar Bonnie.

Ia menambahkan, Soekarno tidak hanya memandang dunia berdasarkan persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur pada masa Perang Dingin. Soekarno juga melihat adanya pembagian kekuatan antara negara-negara penjajah dan negara-negara yang pernah atau masih berada di bawah penjajahan.

Menurut Bonnie, perspektif tersebut memperlihatkan bahwa persoalan geopolitik tidak dapat dilepaskan dari sejarah kolonialisme dan perjuangan negara-negara berkembang dalam memperoleh kedudukan yang setara di dunia internasional.

Bonnie juga menyinggung kritik Soekarno terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1965. Saat itu, Soekarno menilai struktur kelembagaan internasional perlu diperbarui agar lebih mencerminkan perkembangan situasi dunia dan tidak hanya didominasi kepentingan negara-negara besar pemenang Perang Dunia II.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

Ia menilai gagasan mengenai hubungan internasional yang lebih setara masih relevan untuk dibahas di tengah perkembangan geopolitik multipolar saat ini.

Bonnie kemudian mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar mempelajari Soekarno sebagai tokoh sejarah, tetapi juga memahami pemikirannya sebagai kerangka dalam membaca perubahan global.

"Pertanyaannya, apakah pemikiran Soekarno sudah tidak relevan, atau justru kita yang belum mampu menemukan fungsi dan relevansinya dengan perkembangan zaman?" katanya.

Melalui penguatan literasi geopolitik, Bonnie berharap Generasi Z dapat memahami sejarah perjuangan bangsa sekaligus mengembangkan cara pandang kritis terhadap berbagai dinamika hubungan internasional.

Quote