Jakarta, Gesuri.id – Warisan kolonialisme dinilai masih memengaruhi struktur ekonomi Indonesia hingga saat ini, terutama dalam pola produksi dan ketergantungan terhadap sistem ekonomi global.
Indonesia masih menghadapi tantangan untuk memperkuat posisi sebagai negara yang mampu mengolah sumber daya alam dan menciptakan nilai tambah secara mandiri.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik bagi Generasi Z di Universitas Bung Karno, Rabu (4/11/2026).
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

Bonnie menjelaskan bahwa meskipun kolonialisme secara formal telah berakhir, pola dominasi yang terbentuk selama masa penjajahan masih bertahan melalui struktur ekonomi, kelembagaan politik, dan produksi pengetahuan.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai kolonialitas, yakni pola kekuasaan yang terus berlangsung meskipun negara-negara bekas jajahan telah memperoleh kemerdekaan secara politik.
"Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen berbagai komoditas yang dibutuhkan dunia. Dahulu rempah-rempah, hari ini nikel. Kita selalu berada dalam pola sebagai pemasok bahan mentah, sementara proses pengolahan dan penciptaan nilai tambah lebih banyak berlangsung di tempat lain," ungkap Bonnie.
Menurutnya, pola pembagian kerja ekonomi global tersebut merupakan salah satu warisan kolonialisme yang perlu dikaji secara kritis. Negara-negara berkembang kerap ditempatkan sebagai pemasok bahan baku, sedangkan negara-negara maju memiliki posisi lebih besar dalam penguasaan industri, teknologi, dan distribusi nilai ekonomi.
Bonnie menilai pemikiran Soekarno mengenai berdikari secara ekonomi dapat menjadi salah satu landasan untuk mengatasi persoalan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa gagasan kemandirian ekonomi Soekarno tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan sumber daya, tetapi juga mencakup kemampuan membangun industri produktif, memperkuat sektor ekonomi nasional, serta mengarahkan pembangunan untuk kepentingan rakyat.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Bonnie juga mengingatkan bahwa ketergantungan ekonomi bukan satu-satunya bentuk kolonialitas. Dominasi dapat berlangsung melalui kelembagaan politik internasional dan penguasaan sistem produksi pengetahuan.
Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk memahami hubungan antara sejarah kolonialisme, struktur ekonomi global, dan tantangan pembangunan nasional.
"Trisakti itu bukan sekadar slogan. Berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan harus dipahami sebagai metode perjuangan," tegasnya.
Ia berharap Generasi Z dapat mengembangkan pemikiran kritis mengenai arah pembangunan Indonesia, termasuk pentingnya pengelolaan sumber daya alam, penguatan industri nasional, dan peningkatan kemandirian ekonomi.
Menurut Bonnie, pemahaman terhadap geopolitik akan membantu generasi muda melihat bahwa persoalan ekonomi nasional tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan perubahan kekuatan dan kepentingan dalam tatanan global.

















































































