Ikuti Kami

Daniel Rohi Dorong Pemprov Jatim Lakukan Peremajaan Pelabuhan

Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur itu meminta agar pemprov segera melakukan pengerukan sedimen.

Daniel Rohi Dorong Pemprov Jatim Lakukan Peremajaan Pelabuhan
Anggota DPRD Jawa Timur, Daniel Rohi.

Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPRD Jawa Timur, Daniel Rohi, mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melakukan peremajaan pelabuhan di seluruh wilayah Jawa Timur, khususnya di Pelabuhan Mayangan, Probolinggo.

Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur itu meminta agar pemprov segera melakukan pengerukan sedimen. Hal tersebut menjadi langkah krusial untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan dan mendukung aktivitas ekonomi sektor perikanan.

“Usai kunjungan kerja ke Pelabuhan Mayangan kemarin, saya melihat nilai strategis di sana dalam kegiatan jual-beli ikan. Namun, karena adanya pendangkalan yang sangat parah, kapal susah berlabuh untuk bongkar-muat tangkapan ikan,” ujar Daniel di Surabaya, Minggu (3/3).

BaCa: Pleno Suara Luar Negeri Dilanjut, PDI Perjuangan Langsung Ngegas

Pengerukan sendimen di pelabuhan ini, akan meningkatkan kelancaran akses para nelayan ataupun kapal saat berlabuh. Sehingga bisa membuka peluang lebih besar pelelangan ikan dan mendukung keberlanjutan bisnis perikanan di daerah sana.

“Selain itu, saya juga menyoroti perihal Surat Edaran (SE) Nomor B.701/ MEN-KP/VI/2023. Sebab, SE tersebut membebani para nelayan kecil. Salah satunya, jika nelayan melaut di atas 12 mil harus menyetujui migrasi perizinan,” jelasnya.

Daniel juga menyoroti poin-poin dalam surat edaran tentang migrasi perizinan, di antaranya, poin (a) dan (b) yang menjadi kewenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Poin (a) menyebutkan, kapal penangkap ikan berukuran sampai dengan kumulatif 5 (lima) gross tonnage dan beroperasi di Wilayah Kawasan Konservasi Nasional.

BaCa: Mahfud MD Pastikan Hak Angket Tidak akan Digemboskan

Sementara poin (b) menjelaskan, kapal penangkap ikan berukuran di atas 5 (lima) gross tonnage sampai dengan 30 (tiga puluh) gross tonnage dan beroperasi di atas 12 mil laut dan atau laut lepas.

Akibat dari kebijakan tersebut, nelayan di Pelabuhan Mayangan semakin terbebani. Pasalnya, saat ini pencatatan ikan di pelabuhan untuk kapal dan PNBP pascabayar sering kali berbeda antara petugas dari KKP dan pelaku usaha.

“Saya meminta pemprov segera berkooridnasi dengan pusat terkait hal ini, agar kebijakan migrasi kapal ini dikaji ulang dan tidak membebani para nelayan,” pungkasnya.

Quote