Jakarta, Gesuri.id — Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mendesak organisasi profesi dan instansi kesehatan untuk menindak tegas oknum tenaga kesehatan (nakes) yang diduga melakukan perundungan (bullying) terhadap seorang pasien di media sosial.
Kasus tersebut memicu kecaman publik setelah unggahan bernada cemoohan itu viral di ruang digital.
Charles meminta proses pemeriksaan dilakukan secara transparan dan tanpa kompromi jika terbukti ada pelanggaran kode etik.
Baca: Empat Keberhasilan Ganjar Pranowo Selama Menjadi Gubernur
"Saya berharap organisasi profesi dan institusi tempat yang bersangkutan bekerja melakukan pemeriksaan secara objektif, serta memberikan sanksi tegas apabila terbukti terjadi pelanggaran etik," tegas Charles kepada Tirto, Rabu (5/8).
Di tengah sorotan publik, Charles menyampaikan rasa keprihatinan sekaligus duka cita mendalam atas meninggalnya pasien yang menjadi sasaran olok-olok tersebut. Ia menekankan bahwa setiap orang berhak atas perlakuan manusiawi, terutama saat sedang berjuang melawan penyakit.
"Saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya almarhum. Apa pun kondisi akhirnya, setiap pasien berhak diperlakukan dengan hormat, bermartabat, dan penuh empati," kata politikus PDI Perjuangan tersebut.
Menurut Charles, profesi nakes memikul tanggung jawab moral yang tinggi. Nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme wajib dijaga, termasuk dalam beraktivitas di dunia maya.
"Profesi tenaga kesehatan adalah profesi yang mulia. Standar etik dan profesionalisme harus tetap dijaga, termasuk di ruang digital. Kritik atau keluhan pasien tidak boleh dibalas dengan ejekan atau penghinaan," tambahnya.
Gelombang kritik publik bermula dari beredarnya unggahan sejumlah akun media sosial yang diduga milik para nakes. Mereka tepergok melontarkan komentar bernada merendahkan terhadap seorang pasien bernama Yurizal, yang sebelumnya mengeluhkan lamanya proses antrean untuk mendapatkan ruang rawat inap.
Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo
Di tengah polemik yang terus memanas di media sosial, pasien tersebut dilaporkan telah meninggal dunia.
Menanggapi polemik ini, Guru Besar Kedokteran sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan pentingnya sikap empati bagi seorang dokter dan tenaga medis dalam situasi apa pun.
Prof. Tjandra menekankan pentingnya menerapkan konsep einfühlung—sebuah kemampuan mendalam untuk menyelaraskan rasa, memahami kondisi, serta melihat persoalan dari sudut pandang orang lain.

















































































