Surabaya, Gesuri.id – Mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, kembali membagikan kisah emosional di balik keputusan beraninya menutup lokalisasi legendaris, Gang Dolly, beberapa tahun lalu. Keputusan yang sempat menuai kontroversi luas tersebut rupanya didasari oleh keprihatinan mendalam terhadap masa depan anak-anak di lingkungan sekitar lokalisasi.
Risma mengungkapkan bahwa langkah ekstrem yang diambilnya kerap mendatangkan respons negatif dari berbagai pihak. Tidak sedikit masyarakat hingga kelompok tertentu yang menuduhnya bertindak atas dasar moralitas semata tanpa memikirkan dampak sosial ekonomi dari penutupan tersebut.
"Sering kali orang berbicara, bahkan saya sempat dituduh sok sucilah, sok apalah. Tetapi sebetulnya yang terjadi adalah saya ingin menyelamatkan anak-anak," ujar Risma dalam wawancara eksklusif dengan Moncong Publik
Sebelum keputusan penutupan itu diketuk, Risma mengaku selalu turun tangan langsung secara konsisten dalam menangani kasus perdagangan anak (trafficking). Ia bahkan kerap mendatangi kantor kepolisian di tengah malam buta begitu menerima laporan dari jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
"Bahkan jika itu terjadi jam dua malam, kadang saya dihubungi oleh Satpol PP lewat HT, karena saya selalu memegang HT selain handphone. Saya selalu dihubungi jika ada anak yang tertangkap dalam kasus trafficking. Saya pasti datang untuk melihat posisinya di mana dan berapa usia anak-anak tersebut," kenang Risma.
Melalui data penanganan kasus yang dikumpulkan secara runut, Risma menemukan pola yang mengkhawatirkan. Mayoritas anak-anak yang menjadi korban perdagangan manusia ternyata bertempat tinggal atau tumbuh di dalam lingkungan lokalisasi tersebut.
Satu di antara sekian kasus yang paling memukul batinnya adalah saat ia bertemu dengan seorang anak berusia tujuh tahun yang sudah mengalami kecanduan seksual akibat paparan lingkungan sekitar. Anak tersebut mengalami trauma psikologis berat hingga harus ditutup matanya saat hendak ditemui agar tidak merasa terangsang oleh kehadiran figur lawan jenis.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Risma juga membeberkan fakta miris di mana anak-anak di wilayah tersebut kerap menjadikan aktivitas prostitusi sebagai tontonan komersial bagi teman-teman sekolah mereka. Anak-anak setempat memungut bayaran berkisar antara Rp1.000 hingga Rp2.000 agar teman sebayanya bisa mengintip aktivitas di dalam lokalisasi.
Menyadari besarnya ancaman moral dan psikologis yang mengintai generasi muda, Risma membulatkan tekad untuk menutup Gang Dolly meski harus bertaruh nyawa menghadapi jaringan mafia. Baginya, langkah tersebut adalah sebuah panggilan murni atas dasar kemanusiaan dan tanggung jawab mutlak sebagai seorang pemimpin.
"Akhirnya, dengan segala risiko, saya menutup lokalisasi itu. Jadi, aksi tersebut bukan karena saya sok suci, bukan, melainkan karena saya ingin menyelamatkan masa depan anak-anak. Bahkan waktu pihak Komnas HAM datang ke tempat saya saat itu, anak-anak di sekitar lingkungan tersebut menangis sambil memegangi saya dan berkata, 'Bu, jangan dibuka lagi, Bu. Kami tidak bisa belajar'," pungkasnya.

















































































