Bangli, Gesuri.id – Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menegaskan pentingnya memperkenalkan kearifan lokal (local wisdom) Desa Wisata Penglipuran kepada masyarakat dunia.
Menurutnya, pesona Penglipuran tidak boleh hanya bertumpu pada penghargaan internasional, melainkan pada nilai-nilai budaya luhur yang hidup di dalamnya.
Hal tersebut disampaikan Samuel saat menghadiri pembukaan Penglipuran Village Festival XIII 2026 di Kabupaten Bangli, Bali, Kamis (9/7/2026). Hadir bersama mitra kerja dari Kementerian Pariwisata, Samuel mengapresiasi reputasi global yang telah melekat pada desa wisata tersebut.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
"Desa ini sudah terkenal di dunia karena berbagai penghargaan yang diterima. Tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana local wisdom yang dimiliki masyarakat juga dikenal luas," ujar Samuel Wattimena.
Secara khusus, Samuel menyoroti dua aspek budaya utama yang menjadi motor keberlanjutan di Penglipuran:
- Sistem Pengelolaan Sampah: Merupakan warisan leluhur yang diterapkan secara turun-temurun, menjadi kunci utama desa ini tetap asri, indah, dan berkelanjutan.
- Tradisi Karang Memadu: Kawasan khusus yang menjadi bagian dari hukum adat terkait larangan poligami.
Samuel menilai aturan adat seketat ini merupakan bentuk kekayaan budaya bangsa yang sangat unik dan sarat pesan moral.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Lebih lanjut, legislator ini mengingatkan agar narasi budaya asli tidak tenggelam oleh arus digital yang superfisial. Ia mendorong pemanfaatan platform digital secara bijak untuk menyuarakan nilai tradisi.
"Jangan sampai kekuatan media sosial mengalahkan kekuatan local wisdom kita. Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk bersama-sama menyiarkan kearifan lokal, tidak hanya di Bali tetapi juga di seluruh Indonesia," tegasnya.
Gelaran Penglipuran Village Festival XIII yang berlangsung hingga Sabtu (11/7/2026) ini diharapkan menjadi momentum besar untuk memperkuat promosi pariwisata Indonesia yang inklusif, berkelanjutan, dan regeneratif, dengan menempatkan nilai budaya lokal sebagai daya tarik utamanya.

















































































