Deli Serdang, Gesuri.id — Sejumlah perempuan suku Karo berbaris rapi sembari menjunjung labu di atas kepala mereka di Desa Tiga Juhar, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (29/7).
Sembari melepas tawa dan menari kecil mengikuti alunan musik khas Karo, mereka antusias menanti giliran untuk menyerahkan hasil bumi tersebut kepada anggota Komisi X DPR RI, dr. Sofyan Tan.
Salah satu warga, Serasi beru Barus, menjelaskan bahwa tradisi menjunjung labu di atas kepala—yang dikenal dalam masyarakat Karo sebagai nujung—merupakan simbol rasa syukur.
“Ini bentuk ungkapan syukur dan terima kasih kami kepada Pak Sofyan Tan karena sudah membantu anak saya bersekolah,” ujar Serasi.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo

Pilihan buah labu pun memiliki makna filosofis tersendiri. Dari satu buah labu besar, terdapat ratusan hingga ribuan biji yang kelak dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Masyarakat berharap, dari sosok Sofyan Tan, akan lahir "Sofyan Tan baru" lainnya yang terus mengulurkan tangan bagi warga kurang mampu.
Tidak hanya labu, ribuan ibu rumah tangga lainnya turut mengantre untuk bersalaman dan berswafoto dengan legislator dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut. Mereka membawa aneka hasil kebun sebagai cinderamata, mulai dari terung, kacang panjang, pisang, kelapa, salak, hingga durian.
Dalam kunjungan resesnya tersebut, politisi dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara 1 ini membagikan kenangan emosionalnya bersama warga STM Hulu. Ia mengenangkan momen usai Pemilu 2014, saat dirinya meraih 84 suara dari wilayah yang bahkan belum pernah ia kunjungi.
Kala itu, STM Hulu merupakan kawasan terpencil yang jauh dari pusat Kota Medan dengan akses jalan yang rusak parah.
"Saya sempat heran, siapa 84 orang yang memilih saya ini?" kenang Sofyan.
Rasa penasaran itu mendorongnya melangkah ke STM Hulu. Di sana, ia bertemu dengan Megawati Barus, seorang guru di SMA Swasta Bina Bangsa Tiga Juhar. Pertemuan itu menjadi pintu masuk penyaluran berbagai program aspirasi beasiswa pendidikan.
Pada kunjungan berikutnya, pihak sekolah menyambut kedatangan Sofyan dengan spanduk sederhana bertuliskan "Selamat Datang Pejuang Pendidikan". Sejak saat itu, julukan "Pejuang Pendidikan" melekat pada dirinya hingga hari ini.
Komitmen Sofyan Tan di STM Hulu terbukti bukan sekadar slogan kampanye. Jika pada awalnya ia hanya memfasilitasi dua anak untuk berkuliah, kini tercatat ada 205 mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dari daerah tersebut. Sebagian di antaranya bahkan telah lulus dan bergelar sarjana.
Bagi Sofyan, setiap anak yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi adalah satu mata rantai kemiskinan yang berhasil diputus.
Selain beasiswa, ia juga memperjuangkan perbaikan infrastruktur sekolah di daerah tersebut. Melalui jalur aspirasi DPR RI, SMP Negeri 1 STM Hulu mendapatkan alokasi anggaran revitalisasi sebesar Rp3,4 miliar, sedangkan SMA Swasta Bina Bangsa Tiga Juhar menerima bantuan lebih dari Rp800 juta.
"Membangun sarana sekolah sama pentingnya dengan membantu anak-anak melanjutkan pendidikan," tegasnya.
Di hadapan warga, Sofyan sempat berseloroh mengenai perjuangannya memenangkan hati masyarakat setempat.
"Ibu-ibu di STM Hulu ini lumayan sulit didapatkan cintanya. Saya butuh waktu sepuluh tahun sampai akhirnya mereka jatuh cinta kepada saya," ucapnya, yang disambut gelak tawa warga.
Hasil dari konsistensi itu terlihat nyata dari perolehan suaranya yang terus melonjak: dari 84 suara pada Pemilu 2014, naik menjadi sekitar 400 suara pada 2019, hingga menembus 2.045 suara pada Pemilu 2024.

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Kendati demikian, Sofyan menegaskan bahwa perolehan suara bukanlah indikator utama dalam pengabdiannya. Ia justru mengaku lebih intensif mendatangi wilayah-wilayah dengan perolehan suara politik yang tergolong rendah.
"Di Kecamatan Gunung Meriah, dulu saya cuma dapat 15 suara. Setelah tiga kali pemilu, baru naik jadi sekitar 150 suara. Namun saya tidak menyerah, karena masyarakat di sana justru lebih membutuhkan bantuan," ungkapnya.
Menjelang akhir pertemuan, Sofyan menyisipkan pesan mendalam bagi para orang tua. Ia meminta mereka untuk terus memotivasi anak-anak agar giat belajar demi mengubah nasib keluarga.
"Jika suatu hari anak-anak kita sudah berhasil, jangan lupa membantu sesama. Bantulah warga kurang mampu tanpa memandang suku, agama, maupun ras. Bantulah mereka murni karena kemanusiaan dan rasa empati," pungkasnya.

















































































