Ikuti Kami

Koster Tegaskan Pertanian Bali Bukan Sekadar Pelengkap Pariwisata

Menurutnya, pertanian dan pariwisata harus berjalan beriringan serta saling menguntungkan.

Koster Tegaskan Pertanian Bali Bukan Sekadar Pelengkap Pariwisata
Gubernur Bali, I Wayan Koster.

​Denpasar, Gesuri.id – Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa sektor pertanian di Pulau Dewata memiliki posisi strategis dan tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pemanis atau pelengkap industri pariwisata. 

Menurutnya, pertanian dan pariwisata harus berjalan beriringan serta saling menguntungkan.

​"Pertanian tidak boleh diposisikan hanya sebagai pelengkap pembangunan pariwisata," ujar Koster saat menerima audiensi Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur di Denpasar, Jumat.

Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo

​Koster menyoroti fenomena selama ini di mana banyak kawasan pertanian dieksploitasi menjadi daya tarik wisata alam semata. Ironisnya, keindahan tersebut kerap kali tidak memberikan manfaat ekonomi yang memadai dan berkeadilan bagi para petani selaku pemilik lahan.

​"Pertanian harus berjalan sejalan dengan pariwisata. Banyak fasilitas pariwisata yang mengeksploitasi keindahan kawasan pertanian," katanya.

​Ia menilai tidak adil jika kawasan pertanian hanya dilindungi demi estetika wisata tanpa ada upaya nyata untuk meningkatkan pendapatan petaninya, terlebih di tengah tuntutan kebutuhan hidup yang terus meningkat. 

Oleh karena itu, diperlukan konsep matang yang mampu menempatkan petani sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat terbesar dari pengembangan pariwisata berbasis pertanian (agrowisata).

​Lebih lanjut, Koster memaparkan bahwa Bali memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki daerah lain, yaitu sistem pertanian yang menyatu erat dengan budaya, tradisi, dan kearifan lokal. Nilai-nilai adiluhung inilah yang menjadi identitas sekaligus daya tarik Bali di panggung internasional.

​Konsep pertanian visioner ini bahkan sempat dipaparkan Koster dalam sebuah forum internasional di London beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengenalkan peraturan daerah (perda) tentang pertanian organik, yang diklaim sebagai satu-satunya regulasi sejenis di Indonesia.

​"Di Bali, bertani bukan sekadar menanam. Ada upacara dan upakara yang mengiringi prosesnya, mulai dari pembibitan, pengairan, hingga panen. Semua itu menjadi satu kesatuan budaya yang hanya dimiliki Bali," tutur orang nomor satu di Pemerintah Provinsi Bali tersebut.

​Kekayaan tradisi ini membuat sistem pertanian Bali tidak hanya bernilai teknis-ekonomis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan sosial yang tinggi. Di tengah dinamika global saat masyarakat dunia mulai mencari kembali akar budaya mereka, Bali telah memiliki jati diri yang kuat.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

​"Kita di Bali tidak perlu lagi mencari jati diri karena sudah memilikinya sejak dahulu, tinggal digali dan diperkuat kembali. Saya yakin Bali akan menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal, karena ilmu seperti ini hanya ada di Bali," ucapnya optimistis.

​Apresiasi besar terhadap visi pertanian Gubernur Koster datang dari akademisi. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, yang memimpin rombongan forum tersebut, secara resmi mengundang Wayan Koster untuk menjadi pembicara kunci (keynote speaker) pada Lokakarya dan Seminar Nasional Pertanian yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Juli mendatang.

​Agenda nasional ini merupakan bagian dari rangkaian forum ilmiah yang mencakup seminar nasional, lokakarya, serta berbagai perlombaan mahasiswa. Sebanyak 90 dekan fakultas pertanian beserta jajaran dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Indonesia Timur dipastikan hadir, dengan total peserta diperkirakan mencapai 200 orang.

Quote