Ikuti Kami

Mengabdi Tanpa Batas Usia: Kisah Haru Pengajar Ngaji 100 Tahun yang Sentuh Hati Anggota DPR RI Hj. Ansari

Keteladanan Suidah membuktikan bahwa semangat berbagi ilmu dan pengabdian tidak terbatas oleh usia.

Mengabdi Tanpa Batas Usia: Kisah Haru Pengajar Ngaji 100 Tahun yang Sentuh Hati Anggota DPR RI Hj. Ansari
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ansari.

Pamekasan, Gesuri.id — Dedikasi pantang menyerah ditunjukkan oleh Suidah, seorang nenek berusia satu abad asal Dusun Toronan, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan. 

Meski hidup sebatang kara dan memiliki gangguan pendengaran, perempuan berusia 100 tahun ini tetap setia mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anak di sekitarnya.

​Ketulusan Suidah tersebut menyentuh hati anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ansari. Menurut Ansari, keteladanan Suidah membuktikan bahwa semangat berbagi ilmu dan pengabdian tidak terbatas oleh usia.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar 

​“Saya sangat terharu melihat semangat Ibu Suidah. Di usia 100 tahun, beliau masih mengabdikan diri mengajar ngaji. Semoga bantuan ini bermanfaat dan semangat beliau menjadi inspirasi bagi kita semua,” ujar Hj. Ansari saat penyerahan bantuan di Rumah Aspirasi, Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Senin (12/10).

​Suidah menjadi salah satu penerima manfaat bantuan alat bantu dengar melalui Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI). Alat tersebut diharapkan dapat memudahkan Suidah dalam berinteraksi serta menjalankan aktivitas sehari-harinya mengajar ngaji.

​Di balik keterbatasannya, Suidah mengaku bersyukur dan ingin terus mengabdi selama fisiknya masih mampu. “Semoga ilmu yang saya ajarkan menjadi amal jariyah,” tutur Suidah penuh harap.

​Melihat senyum dan asa dari para penerima manfaat seperti Suidah, Hj. Ansari menekankan pentingnya kehadiran negara dalam membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan fisik maupun ekonomi. Ia menegaskan bahwa bantuan yang tampak sederhana bagi sebagian orang bisa berdampak amat besar bagi penerimanya.

​“Bagi kita yang mampu, mungkin bantuan itu terlihat kecil. Namun, bagi mereka yang membutuhkan, manfaatnya sangat luar biasa,” kata Ansari.

​Ia mencontohkan kasus penerima bantuan kursi roda yang sebelumnya hanya bisa terbaring di dalam rumah selama bertahun-tahun. Bantuan alat mobilitas tersebut akhirnya memungkinkan sang penerima manfaat kembali merasakan udara luar dan paparan sinar matahari dengan bantuan anaknya.

​“Alhamdulillah, setelah diberi kursi roda, anaknya bisa membawa ibunya berjalan-jalan keluar rumah. Rasa syukur dan terima kasih yang mereka sampaikan sangat luar biasa,” ungkapnya.

​Ansari menegaskan, posisinya sebagai wakil rakyat adalah menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat bawah dan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Sosial.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

​“Kalau ada masyarakat yang membutuhkan, silakan sampaikan kepada saya. Nanti saya ajukan ke Kementerian Sosial agar mereka mendapatkan bantuan yang sesuai,” jelasnya.

​Bagi Ansari, menyalurkan bantuan sosial adalah kewajiban moral dan tanggung jawab profesi. Ia bahkan tidak berkecil hati apabila ada penerima bantuan berlanjut usia yang hanya sempat memanfaatkan bantuan tersebut dalam hitungan bulan sebelum berpulang.

​“Walaupun terkadang bantuan itu hanya dipakai sebulan atau dua bulan lalu mereka meninggal dunia, niat ikhlas kita untuk membantu insyaallah sudah dicatat oleh Allah SWT,” tutur Ansari.

​Penyaluran bantuan Program ATENSI di Rumah Aspirasi ini menyerahkan berbagai alat bantu bagi belasan warga Pamekasan sesuai dengan kebutuhan khusus masing-masing. Lewat aksi nyata ini, Ansari berharap bantuan sosial tidak sekadar menjadi ajang bagi-bagi barang, melainkan bentuk kepedulian nyata yang menghadirkan kebahagiaan dan kehangatan bagi warga yang paling membutuhkan.

Quote