Gresik, Gesuri.id - Besarnya ekosistem industri di Kabupaten Gresik membuka peluang bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk naik kelas dari sekadar memproduksi barang menjadi bagian dari rantai pasok industri besar.
Untuk mewujudkan peluang tersebut, Anggota Komisi VII DPR RI, Nila Yani Hardiyanti, mendorong pelaku IKM memperkuat kapasitas produksi, teknologi, permodalan, dan legalitas usaha agar mampu memenuhi standar serta kebutuhan industri skala besar.
Hal itu disampaikan Nila saat membuka kegiatan Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru (WUB) IKM di Aston Gresik Hotel & Conference Center, Kamis (29/10/2026).
Menurut Nila, Gresik memiliki modal penting untuk mengembangkan IKM karena berada di tengah kawasan industri dengan kebutuhan pasar yang besar. Kondisi tersebut seharusnya menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk membangun kemitraan dan menjadi bagian dari rantai pasok industri yang berkembang di daerah.
“Jangan sampai industri besar tumbuh di Gresik, tetapi IKM lokal hanya menjadi penonton. Kita ingin IKM memiliki kemampuan dan kesiapan untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri,” ujar Nila.
Politisi PDI Perjuangan itu mengatakan, peluang tersebut membutuhkan kesiapan dari sisi produksi. Pelaku IKM perlu memiliki mesin dan teknologi yang mampu meningkatkan kapasitas, menjaga kualitas, serta memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten.
Selain teknologi, akses pembiayaan juga menjadi faktor penting. Menurut Nila, keterbatasan modal masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pelaku usaha ketika ingin meningkatkan kapasitas produksi maupun membeli peralatan pendukung.
Nila menyinggung penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara nasional yang mencapai Rp260,8 triliun hingga 21 Oktober 2026. Angka tersebut setara 89,93 persen dari target tahunan sebesar Rp290 triliun.
Ia berharap fasilitas pembiayaan tersebut semakin dimanfaatkan oleh wirausaha baru dan pelaku IKM produktif untuk mengembangkan usaha, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperkuat daya saing.
“Pengembangan IKM tidak hanya soal bagaimana memulai usaha, tetapi bagaimana usaha itu bisa tumbuh, meningkatkan kapasitas dan akhirnya mampu masuk ke pasar yang lebih besar,” katanya.
Nila juga menyoroti pembangunan Sentra IKM Logam di Desa Hulaan, Kecamatan Menganti, Gresik, pada Juli 2026 dengan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Perindustrian senilai sekitar Rp14 miliar.
Menurutnya, keberadaan sentra tersebut dapat menjadi salah satu infrastruktur penting untuk mendorong IKM logam Gresik meningkatkan kemampuan produksinya. Namun, fasilitas yang telah dibangun harus benar-benar dimanfaatkan secara produktif dan terhubung dengan kebutuhan pasar.
“Mesin dan fasilitas sudah disediakan, sekarang bagaimana kita memastikan fasilitas itu menghasilkan produk yang berkualitas, produktif, dan punya pasar,” ujarnya.
Nila menilai IKM logam memiliki peluang besar mengingat Gresik merupakan salah satu kawasan industri penting. Dengan peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, pelaku IKM dapat diarahkan menjadi mitra industri besar, termasuk dalam penyediaan komponen maupun kebutuhan pendukung produksi.
Di sisi lain, legalitas usaha juga menjadi bagian penting agar IKM dapat berkembang. Legalitas tidak hanya diperlukan untuk memenuhi ketentuan administrasi, tetapi juga membuka akses terhadap pembiayaan, program pemerintah, serta peluang kerja sama dengan perusahaan yang lebih besar.
Karena itu, kegiatan WUB IKM tidak hanya memberikan materi kewirausahaan. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pemasaran digital, akses pembiayaan melalui KUR, serta pengurusan perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS).
Materi tersebut disampaikan oleh narasumber dari bidang kewirausahaan, pemasaran digital, perbankan, dan instansi pemerintah daerah. Pembekalan diharapkan membantu peserta membangun usaha secara lebih terencana sekaligus memperluas akses pasar.
Nila menegaskan, pengembangan IKM tidak dapat berhenti pada pelatihan atau pemberian bantuan sarana. Pemerintah, pelaku usaha, perbankan, dan industri besar perlu membangun ekosistem yang memungkinkan IKM berkembang secara berkelanjutan.
“Yang kita bangun bukan hanya wirausaha baru, tetapi wirausaha yang mampu bertahan, berkembang dan naik kelas. Karena itu harus ada pendampingan, akses pembiayaan, teknologi, legalitas, dan yang paling penting akses terhadap pasar,” pungkasnya.

















































































