Ikuti Kami

Pimpinan Komisi XIII DPR Wanti-wanti Dampak "Overtourism" dan Pengawasan Imigrasi di Bali

Mobilitas tinggi, khususnya bagi wisatawan asing, memerlukan pengawasan ketat guna mencegah celah tindak kriminalitas.

Pimpinan Komisi XIII DPR Wanti-wanti Dampak
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira.

Denpasar, Gesuri.id – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, mengingatkan bahwa lonjakan kunjungan wisatawan ke Bali harus diimbangi dengan pengawasan keimigrasian, keamanan, serta kenyamanan masyarakat lokal. 

Menurutnya, orientasi kuantitas kunjungan tidak boleh mengabaikan potensi dampak buruk yang dapat mengancam keberlangsungan pariwisata jangka panjang.

​Hal tersebut disampaikannya usai kunjungan kerja reses Komisi XIII DPR RI di Denpasar, Bali, Jumat (9/10). 

Baca: Soal Pertimbangan MK Terkait Ijazah Gibran, Ganjar Pranowo

Andreas menilai mobilitas tinggi, khususnya bagi wisatawan asing, memerlukan pengawasan ketat guna mencegah celah tindak kriminalitas.

​Ia menekankan pentingnya skrining ketat sejak dari pintu masuk perbatasan negara. Rekam jejak warga negara asing harus diteliti secara mendalam agar Bali tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak berpotensi kriminal.

​"Pintu masuk ini harus menjadi perhatian kita, sehingga mereka yang punya rekam jejak buruk di luar negeri tidak sampai masuk, lalu memanfaatkan kenyamanan Bali untuk tinggal dan melakukan tindakan kriminal di sini," ujar politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

​Dalam kesempatan yang sama, Andreas turut menyoroti risiko overtourism—fenomena kunjungan wisatawan berlebihan yang memicu tekanan berat terhadap lingkungan, tatanan sosial, dan kenyamanan warga setempat. Jika dibiarkan, kondisi ini dikhawatirkan memicu resistensi warga terhadap pariwisata, seperti yang sudah melanda sejumlah destinasi populer di Eropa.

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

​Ia menegaskan, ledakan jumlah pelintas batas tidak serta-merta menjamin kualitas pariwisata jika tata kelolanya mengorbankan kepentingan publik lokal.

​"Hal itu sudah terjadi di banyak tempat di Eropa. Destinasi-destinasi wisata kini justru menolak turisme. Itulah yang saya maksud dengan fenomena tourism kills tourism atau the death of tourism," ungkapnya.

​Andreas berharap skenario buruk tersebut tidak menimpa Bali. Oleh karena itu, ia mendorong keseimbangan mutlak antara pertumbuhan ekonomi pariwisata, aspek keamanan, dan keharmonisan sosial warga setempat agar sektor andalan ini tetap berkelanjutan.

Quote