Ikuti Kami

Sofyan Tan: Pendekatan Guru Harus Menyesuaikan Jenjang Pendidikan Siswa

Guru harus memahami karakteristik perkembangan peserta didik agar proses pembelajaran berlangsung secara humanis dan efektif.

Sofyan Tan: Pendekatan Guru Harus Menyesuaikan Jenjang Pendidikan Siswa
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan.

Medan, Gesuri.id – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, menegaskan bahwa membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama pada setiap jenjang pendidikan. 

Menurutnya, guru harus memahami karakteristik perkembangan peserta didik agar proses pembelajaran berlangsung secara humanis dan efektif.

Hal itu dijelaskan Sofyan Tan secara mendetail saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam Workshop Pendidikan bertema "Membangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Melalui Pendekatan yang Humanis". 

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

Acara tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI bersama Komisi X DPR RI di Hotel Le Polonia, Medan, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Sofyan Tan, untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK), guru dituntut membangun ikatan emosional yang kuat dengan peserta didik. Pada usia dini, anak masih berada dalam tahap perkembangan yang cenderung egosentris atau lebih banyak melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.

"Anak PAUD dan TK itu lebih tinggi 'aku-nya' daripada 'dikau'. Artinya, dia selalu mengedepankan apa mau dirinya, dan kalau tidak terpenuhi dia menangis," ungkap Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) tersebut.

Dengan demikian, anak PAUD dan TK membutuhkan kasih sayang, perhatian, serta kedekatan emosional. Pendekatan yang hangat melalui sentuhan yang aman, sapaan, senyuman, dan penguatan positif dinilai jauh lebih efektif.

Memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD), Sofyan Tan menyebut karakteristik perkembangan anak mulai berubah. Mereka mulai memahami aturan, tanggung jawab, serta mampu bekerja sama dengan teman. Karena itu, guru perlu menghadirkan pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan memberikan teladan melalui pembiasaan karakter.

Sementara itu, tantangan terbesar justru muncul pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada fase ini, siswa umumnya sedang mengalami masa pubertas sehingga membutuhkan perlakuan khusus.

Sofyan Tan kemudian mengingatkan kembali peristiwa kerusuhan dalam aksi Agustus 2025 lalu, yang ternyata melibatkan pengerahan massa dari kelompok anak SMP. Menurutnya, anak usia SMP lebih mudah digerakkan dan gampang meledak-ledak jika diprovokasi. Terlebih, ada pihak yang memengaruhi mereka bahwa anak di bawah umur tidak dapat dihukum jika ditangkap.

Oleh karena itu, ia menekankan agar perlakuan untuk anak SMP harus berbeda. Guru diingatkan untuk tidak memarahi atau mempermalukan mereka di depan teman-temannya.

"Jika melakukan kesalahan, panggil secara pribadi, ajak berbicara dari hati ke hati. Pendekatan humanis jauh lebih efektif dibandingkan memarahi mereka di depan umum, karena justru dapat memunculkan penolakan dan perlawanan," jelasnya.

Pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), dunianya mulai masuk pada tahap idealisme dan romantisme. "Oleh sebab itu, peran guru tidak lagi sekadar sebagai pengajar, tetapi juga mentor, fasilitator, sekaligus konselor yang mampu mendengarkan dan mengarahkan potensi peserta didik," lanjut Sofyan.

Ia menegaskan bahwa pendekatan humanis merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari bangunan gedung yang megah, tetapi dilihat dari kemampuan sekolah membentuk karakter, empati, dan budaya saling menghargai.

Selain siswa, Sofyan Tan juga menekankan pentingnya rasa aman dan nyaman bagi guru dalam menegakkan disiplin, tanpa harus merasa diteror oleh orang tua, pihak yayasan, maupun pihak eksternal lain hingga dilaporkan ke kepolisian. Sekolah juga didorong untuk membangun komunikasi positif dengan orang tua, misalnya dengan mengundang mereka saat anak mengukir prestasi, bukan hanya saat anak melakukan pelanggaran.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Dalam acara yang sama, Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen, Dr. Iwan Junaidi, M.Pd., mengingatkan bahwa seluruh sekolah akan melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mulai Senin mendatang. Ia meminta para guru menyosialisasikan program prioritas Kemendikdasmen, khususnya Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Iwan juga menekankan pentingnya keberadaan guru wali yang mendampingi peserta didik secara berkelanjutan sejak awal hingga menyelesaikan pendidikan di sekolah untuk mendeteksi dini berbagai persoalan siswa. Di sisi lain, pemerintah juga terus menjalankan program revitalisasi sekolah untuk memperbaiki ruang kelas yang rusak dengan target penurunan jumlah kerusakan sekolah secara signifikan hingga tahun 2028.

Workshop tersebut turut dihadiri oleh Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Julian Hendri Sembiring, Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Mujiono, serta narasumber Samsuar Sinaga, Zainuddin Abuhamid Muhammad Ghozali, dan Rezeki Lumban Toruan.

Quote