Medan, Gesuri.id – Anggota Komisi X DPR RI, dr. Sofyan Tan, menyayangkan melimpahnya potensi rumput laut Indonesia yang selama ini dinilai masih kurang mendapat perhatian. Padahal, komoditas ini menyimpan potensi ekonomi luar biasa jika diolah di dalam negeri, ketimbang terus-menerus dijual sebagai bahan baku mentah ke luar negeri.
Hal tersebut ditegaskan Sofyan Tan dalam agenda Bimbingan Teknis (Bimtek) Peduli Pemanfaatan Rumput Laut Menjadi Produk Kosmetik dan Obat yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama DPR RI di Medan, Kamis (28/5/2026).
Sofyan memaparkan, Indonesia saat ini menduduki posisi sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia dengan volume produksi mencapai 10,2 juta ton per tahun. Sayangnya, mayoritas hasil panen nasional tersebut langsung diekspor tanpa sentuhan pengolahan lebih lanjut.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
"Sekitar 70 persen rumput laut kita diekspor ke Tiongkok. Padahal, rumput laut memiliki manfaat luar biasa bagi kesehatan dan bisa diolah menjadi berbagai produk hilir yang bernilai ekonomi tinggi," ujar politikus Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Menurut Sofyan, negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan telah lama mengintegrasikan rumput laut ke dalam pola konsumsi harian masyarakat mereka, mulai dari hidangan utama hingga camilan.
Secara medis, legislator asal Sumatra Utara ini menjelaskan bahwa rumput laut kaya akan nutrisi penting seperti vitamin A, B12 kompleks, C, E, kalium, serat, dan antioksidan tinggi.
Kandungan ini efektif melawan radikal bebas, melancarkan pencernaan, hingga berpotensi mencegah kanker usus dan mendukung terapi diabetes.
"Rumput laut juga kini banyak diaplikasikan dalam industri kecantikan karena sangat baik untuk kesehatan kulit dan memiliki efek antipenuaan (anti-aging)," tambah Sofyan.
Mendukung pernyataan Sofyan Tan, Peneliti Ahli Muda BRIN, Dr. apt. Nurul Arfiyanti Yusuf, S.Farm., M.Si., membenarkan bahwa keanekaragaman spesies rumput laut di Indonesia sangat melimpah dari Sabang sampai Merauke. Namun, nilai ekonominya belum maksimal karena rantai perdagangan masih didominasi bentuk mentah atau kering.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
"Jika masyarakat diedukasi dan mampu mengolahnya menjadi produk kosmetik, obat, atau nutraceutical (pangan fungsional), nilai tambahnya akan jauh lebih tinggi," jelas Nurul.
Nurul mengungkapkan, salah satu senyawa premium dalam rumput laut adalah fucoidan, bahan aktif utama untuk formulasi obat lambung kronis.
Zat ini memiliki nilai jual tinggi dan biasa digunakan untuk pengobatan mag berat karena mampu membentuk lapisan pelindung pada dinding lambung. Selain itu, rumput laut juga menghasilkan karaginan dan alginat yang berfungsi sebagai pengental alami pada obat sirup, kosmetik, hingga es krim.
Melalui bimtek ini, Sofyan Tan bersama BRIN berkomitmen untuk terus mendorong masyarakat, khususnya di kawasan pesisir, agar mulai mengadopsi inovasi teknologi pengolahan. Langkah hilirisasi ini diharapkan dapat memutus ketergantungan ekspor bahan mentah sekaligus mendongkrak kesejahteraan ekonomi lokal.

















































































