Ikuti Kami

Tangan Dingin Hasto Wardoyo, PAD Kota Yogyakarta Tahun 2025 Selaras dengan Target

Hasto menekankan bahwa capaian PAD harus diikuti dengan pengelolaan anggaran yang lebih disiplin dan berorientasi hasil. 

Tangan Dingin Hasto Wardoyo, PAD Kota Yogyakarta Tahun 2025 Selaras dengan Target
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Jakarta, Gesuri.id - Pemkot Yogyakarta mencatatkan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2025 selaras target yang ditetapkan.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menuturkan, PAD yang semula ditargetkan sebesar Rp1 triliun dan kemudian direvisi menjadi Rp952 miliar karena kekhawatiran tidak tercapai, justru mampu direalisasikan dengan baik.

"Alhamdulillah tercapai. Cukup menggembirakan. Tentu, kami terima kasih kepada BPKAD dan jajaran dan semuanya yang terlibat, sampai di pamong praja, sampai di kelurahan," katanya, Senin (5/1).

Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis

Kendati demikian, Hasto menekankan bahwa capaian PAD harus diikuti dengan pengelolaan anggaran yang lebih disiplin dan berorientasi hasil. 

Ia meminta seluruh perangkat daerah untuk bekerja lebih awal, mempercepat pelaksanaan kegiatan, dan tidak menunda pekerjaan yang sudah bisa disiapkan sejak sebelum tahun anggaran berjalan.

"Dengan arus kas yang relatif aman, kita harus lebih gesit, supaya program-program yang menyentuh masyarakat bisa segera dirasakan manfaatnya," ungkapnya.

Sementara, Kepala Bappeda Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, memaparkan, APBD 2026 sudah ditetapkan melalui Perda Nomor 11 Tahun 2025 dengan proyeksi pendapatan daerah sebesar Rp1,832 triliun. 

Pada struktur APBD 2025, tambahnya, proporsi PAD Kota Yogyakarta tercatat telah melampaui pendapatan transfer dari pemerintah pusat.

Baca: Ganjar Harap Kepemimpinan Gibran Bisa Teruji

"Kondisi ini menunjukkan bahwa kemandirian fiskal Kota Yogyakarta semakin meningkat. Pajak daerah masih menjadi penyumbang terbesar PAD, disusul lain-lain PAD yang sah, retribusi daerah, serta hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan," tandasnya.

Agus menegaskan, bahwa perubahan paradigma dari money follow function menjadi money follow program menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan fiskal dan efektivitas belanja daerah di tengah keterbatasan anggaran.

Quote