Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin menyampaikan duka cita atas gugurnya prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kontingen Garuda (Konga) dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Ia menilai insiden tersebut harus direspons serius oleh pemerintah dengan menitikberatkan pada dua aspek utama, yakni investigasi dan mitigasi keamanan.
Oleh karena itu, TB Hasanuddin mendorong pemerintah Indonesia, melalui Perwakilan Tetap RI di PBB, untuk mendesak Dewan Keamanan PBB dan Sekretariat Jenderal PBB agar melakukan investigasi secara menyeluruh, transparan, dan independen.
“Fokus investigasi harus memastikan apakah serangan tersebut merupakan dampak eskalasi konflik yang tidak disengaja atau justru merupakan pelanggaran hukum internasional berupa serangan yang disengaja terhadap personel penjaga perdamaian,” tegas TB Hasanuddin, dikutip Selasa (1/4/2026).
Menurut dia, Indonesia juga perlu menegaskan serangan terhadap atribut dan personel PBB merupakan kejahatan perang yang harus diusut dengan akuntabilitas penuh dari pihak yang bertanggung jawab.
Selain itu, TB Hasanuddin menekankan pentingnya peran aktif Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dalam mengawal proses investigasi yang dilakukan oleh UNIFIL. Ia meminta Kemlu melakukan pemantauan ketat sejak tahap awal penyelidikan hingga verifikasi kronologi kejadian.
“Kemlu harus melakukan monitoring ketat terhadap setiap tahapan penyelidikan oleh UNIFIL, mulai dari pengumpulan bukti di lapangan, analisis data, hingga verifikasi kronologi kejadian. Kemlu juga harus memastikan hak-hak prajurit yang gugur maupun yang terluka terpenuhi, serta terus memberikan tekanan diplomatik agar proses investigasi berjalan tuntas,” jelasnya.
Di sisi lain, dia juga meminta pihak Mabes TNI segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dan prosedur operasional bagi seluruh personel Kontingen Garuda di wilayah konflik, baik di Sektor Timur maupun Barat.
“Evaluasi harus mencakup peninjauan posisi pos pantau agar berada dalam zona yang lebih aman, peningkatan perlindungan fisik di pangkalan, serta pengetatan prosedur operasional standar saat terjadi kontak senjata di sekitar area tugas,” terangnya.
Ia menegaskan, langkah mitigasi tersebut penting untuk meminimalkan risiko di tengah situasi keamanan yang semakin tidak menentu, tanpa mengurangi komitmen Indonesia dalam misi perdamaian dunia.
“Keselamatan prajurit harus menjadi prioritas utama, seiring dengan tetap tegaknya komitmen Indonesia sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian dunia,” ucapnya.
Diketahui, Diketahui, seorang prajurit Satuan Tugas (Satgas) Kontingen Garuda (Konga) TNI di misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur dalam serangan Israel terhadap Lebanon. Bukan hanya itu, beberapa prajurit lainnya mengalami luka-luka akibat peristiwa tersebut.
“Terdapat korban dari prajurit TNI, yaitu 1 orang meninggal dunia, 1 dalam kondisi luka berat, dan 2 luka ringan,” kata Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Senin (30/3/2026).

















































































