Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPRD Kabupaten Garut, Yudha Puja Turnawan, meninjau langsung kondisi Emak Ocih, seorang warga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem di Kampung Cipondok, Desa Lebakagung.
Kunjungan ini dilakukan bersama Camat Karangpawitan, Anas Aulia Malik, dan Kepala Desa Lebakagung, Oman, sebagai bentuk empati sekaligus upaya mencari solusi nyata atas persoalan hunian dan ekonomi warga tersebut.
Yudha menyerahkan bantuan paket sembako untuk meringankan beban kebutuhan harian. Namun, ia menekankan bahwa bantuan karitatif saja tidak cukup untuk menyelesaikan akar masalah yang dihadapi Emak Ocih.
Baca: Ganjar Tekankan Kepemimpinan Strategis
Persoalan utama yang mencuat adalah kondisi rumah Emak Ocih yang tidak layak huni. Meski Pemerintah Desa (Pemdes) Lebakagung berniat mengalokasikan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), rencana tersebut terbentur status kepemilikan lahan.
“Pemerintah desa sebenarnya ingin mengalokasikan bantuan Rutilahu, namun terkendala karena rumah ini berdiri di atas tanah milik orang lain,” ungkap Yudha saat memberikan keterangan di lokasi.
Menyikapi hal itu, Ketua RW dan Kepala Desa setempat kini tengah berupaya mencarikan lahan alternatif. Nantinya, penggunaan lahan tersebut akan dimusyawarahkan bersama warga dengan mengedepankan semangat gotong royong sebagai kekuatan utama pembangunan kembali tempat tinggal Emak Ocih.
Berdasarkan data Pendamping Perlindungan Jaminan Sosial (Linjamsos), Emak Ocih tercatat masuk dalam Desil 1 (kategori rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan terendah). Meski telah menerima berbagai bantuan sosial seperti Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), BLT Ketahanan Pangan (Ketara), hingga BLT Dana Desa, bantuan tersebut dinilai belum mampu mengangkatnya dari jerat kemiskinan.
Kondisi ekonominya kian pelik sejak sang suami wafat dua tahun lalu. Saat ini, Emak Ocih tinggal bersama anaknya, Hikmat, yang bekerja sebagai buruh jahit sarung tangan kulit dengan upah Rp35.000 per hari. Penghasilan tersebut jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup layak di tengah kenaikan harga bahan pokok.
Yudha menegaskan bahwa penanganan kemiskinan ekstrem memerlukan kolaborasi pendanaan lintas sektor. Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Garut untuk mensinergikan kekuatan anggaran, mulai dari APBD, dana CSR perusahaan, hingga dukungan dari Baznas melalui program "Garut Makmur".
Baca: Ganjar Pranowo Ungkap Masyarakat Takut dengan Pajak
“Selain pembangunan rumah, kita juga harus memikirkan aspek kewirausahaan. Emak Ocih perlu didorong agar memiliki usaha kecil atau berjualan keliling agar ada penghasilan tambahan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Ia juga mengajak dunia usaha, termasuk perbankan daerah dan perusahaan swasta di Garut, untuk lebih proaktif menyalurkan dana CSR bagi warga yang membutuhkan.
“Selaku wakil rakyat, saya berharap budaya gotong royong ini diperkokoh. Tidak perlu saling menyalahkan. Kita berikhtiar bersama. Pemerintah Desa pun sudah siap mengalokasikan Dana Desa segera setelah status tanahnya jelas,” pungkas Yudha.

















































































