Ikuti Kami

Dari Ciracas ke Lapangan Banteng, Sumpah Pemuda Menyala di Hati Empat Anak Muda

Jujur mereka akui, baru PDI Perjuangan partai politik yang kegiatannya selalu bernilai kebangsaan dan begitu konsen merawat ingatan sejarah

Dari Ciracas ke Lapangan Banteng, Sumpah Pemuda Menyala di Hati Empat Anak Muda
Anak muda asal Ciracas, Jakarta Timur - Foto: Nurfahmi Budi Prasetyo

Jakarta, Gesuri.id - Malam mulai turun ketika cahaya lampu menyelimuti Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Musik, tawa, dan riuh anak muda bercampur dengan suasana kebangsaan yang terasa berbeda.

Di tempat itu, sejarah seperti menemukan cara baru untuk menyapa generasi muda. Bukan melalui buku pelajaran atau upacara yang berlangsung khidmat, tetapi lewat musik, kreativitas, perjumpaan, dan ruang ekspresi anak muda.

Lapangan Banteng malam itu menjadi bagian dari rangkaian Merah Muda Fest 2026. Festival yang digelar DPP PDI Perjuangan tersebut mengambil momentum Sumpah Pemuda dengan tema “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Kemanusiaan”.

Pilihan tempatnya pun tidak sekadar kebetulan. Kawasan Lapangan Banteng memiliki jejak sejarah Kongres Pemuda II 1928, ketika gagasan tentang persatuan pemuda Indonesia menemukan momentumnya. Namun, hampir satu abad kemudian, wajah pemudanya telah berubah.

Mereka datang dengan gawai di tangan, hidup dalam dunia digital, berbicara dengan bahasa zaman, dan menghadapi persoalan yang berbeda. Tetapi satu hal tetap sama: mereka adalah generasi yang akan menentukan arah Indonesia berikutnya.

Di tengah keramaian itu, empat anak muda asal Ciracas, Jakarta Timur, Kevin, Irene, Cae, dan Ifan, ikut merasakan pengalaman tersebut.

Jujur mereka akui, baru PDI Perjuangan partai politik yang kegiatannya selalu bernilai kebangsaan dan begitu konsen merawat ingatan sejarah, menyalakan api persatuan yang dirangkai dalam Peringatan Sumpah Pemuda pada tahun 2026 ini melalui Merah Muda Fest 2026.

Bagi mereka, Merah Muda Fest bukan sekadar tempat menikmati pertunjukan. Festival itu justru membuat sejarah yang selama ini mereka kenal terasa lebih dekat.

Kevin melihat Sumpah Pemuda sebagai pesan yang masih relevan bagi anak muda hari ini. Baginya, persatuan tidak berhenti pada ikrar yang diucapkan para pemuda pada 1928, tetapi harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia merasakan bahwa berada di tengah ribuan anak muda dari berbagai latar belakang membuat makna persatuan menjadi sesuatu yang nyata. Anak muda, menurut Kevin, memiliki ruang untuk bertemu, berbagi gagasan, sekaligus menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh.

Kesan serupa dirasakan Irene, yang masih berusia 14 tahun dan duduk di bangku SMP.

Bagi Irene, pengalaman menghadiri festival dengan tema Sumpah Pemuda memberinya cara pandang baru terhadap sejarah. Sumpah Pemuda tidak lagi sekadar materi yang dibaca di buku sekolah, tetapi sesuatu yang bisa dirasakan melalui perjumpaan dengan anak muda lainnya.

Usia Irene bahkan menjadi pengingat bahwa generasi yang akan menikmati Indonesia pada masa mendatang adalah anak-anak muda yang hari ini masih duduk di bangku sekolah.

Karena itu, ruang bagi mereka untuk mengenal sejarah, menyampaikan pendapat, dan memahami persoalan bangsa menjadi semakin penting.

Sementara Cae melihat Merah Muda Fest sebagai bentuk perayaan yang mampu menghubungkan semangat masa lalu dengan energi anak muda masa kini.

Ia menangkap pesan bahwa nasionalisme tidak selalu harus tampil dalam bentuk yang formal. Rasa memiliki terhadap Indonesia juga dapat tumbuh melalui seni, kreativitas, kepedulian sosial, dan keberanian anak muda untuk mengambil bagian. Ifan pun merasakan hal yang tidak jauh berbeda.

Menurutnya, semangat kebangsaan akan lebih mudah tumbuh ketika anak muda diberi ruang untuk terlibat. Bukan hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan mengenai masa depan Indonesia.

Pandangan empat anak muda Ciracas tersebut memperlihatkan satu hal sederhana. Sumpah Pemuda masih memiliki tempat di hati generasi yang lahir jauh setelah 1928.

Bahkan, bagi generasi Z, nasionalisme mungkin membutuhkan cara penyampaian yang berbeda. Nilainya tetap sama, tetapi medium dan ruang perjumpaannya berubah mengikuti zaman.

Merah Muda Fest sendiri dirancang bukan hanya sebagai panggung hiburan. Ketua Panitia Nasional Merah Muda Fest 2026 Denny Cagur menegaskan festival tersebut harus menjadi ruang yang mendorong anak muda bergerak dan memberi manfaat bagi sesama.

Rangkaian acaranya pun tidak berhenti pada pertunjukan. Ada napak tilas sejarah Kongres Pemuda II, diskusi, workshop, kegiatan sosial, hingga ruang kreativitas anak muda.

Dari sana, terlihat bahwa memperingati Sumpah Pemuda tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang sama. Sejarah justru akan terus hidup apabila generasi baru menemukan cara untuk menghidupkannya kembali.

Semangat itu juga diperluas melalui Public Pulse 28, ruang dialog yang digagas PDI Perjuangan untuk mempertemukan anak muda dengan berbagai gagasan tentang masa depan Indonesia.

Public Pulse 28 diluncurkan pada 28 Juli 2026 di Sekolah Partai dengan perhatian pada persoalan anak muda dan Indonesia Emas 2045. Forum tersebut diarahkan menjadi ruang diskusi mengenai isu-isu yang dekat dengan masa depan generasi muda, termasuk ekonomi, lingkungan, dan persoalan kebangsaan.

Bagi Kevin, Irene, Cae, dan Ifan, rangkaian ruang seperti itu memberikan pesan penting: anak muda tidak cukup hanya diajak mengingat sejarah. Mereka juga perlu diberi kesempatan untuk menulis bab berikutnya.

Sebab, para pemuda 1928 pernah melakukan sesuatu yang melampaui zamannya. Mereka datang dari organisasi dan daerah berbeda, tetapi memilih menemukan titik temu bernama Indonesia. Hari ini tantangannya berbeda.

Ada perubahan iklim, perkembangan teknologi, persaingan lapangan kerja, ketimpangan, hingga derasnya arus informasi yang dapat memecah perhatian dan solidaritas. Namun, inti persoalannya tetap sama: bagaimana anak muda menjaga persatuan sambil menjawab tantangan zamannya.

Dari Lapangan Banteng, pertanyaan itu seperti kembali dilempar kepada generasi hari ini. Apa yang akan dilakukan anak muda Indonesia setelah mengenal sejarah Sumpah Pemuda?

Bagi empat anak muda asal Ciracas itu, jawabannya dimulai dari satu hal: berani hadir, berani belajar, dan berani mengambil bagian.

Sebab Sumpah Pemuda bukan hanya cerita tentang mereka yang pernah berkumpul pada 28 Oktober 1928.

Ia adalah janji yang terus diwariskan. Dan malam itu, di tengah musik dan cahaya Lapangan Banteng, janji tersebut kembali menemukan suara baru dari generasi muda Indonesia.

Quote