Surabaya, Gesuri.id – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pramana, mendesak pemerintah daerah untuk memperkuat ekosistem pendidikan vokasi. Langkah taktis ini dinilai mendesak melalui penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan riil dunia industri, perluasan program magang, sertifikasi kompetensi, serta penguatan kemitraan strategis antara sekolah dan dunia usaha.
Upaya tersebut dipandang krusial agar lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki daya saing tinggi sekaligus terserap secara optimal di pasar kerja nasional.
Renny Pramana memaparkan bahwa penguatan sektor vokasi ini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak, terutama seiring dengan proyeksi lonjakan lulusan SMK di Indonesia yang diperkirakan mencapai 1,53 juta orang pada tahun 2026.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
“Jangan sampai bonus demografi yang dimiliki Indonesia justru berubah menjadi beban pengangguran. Lulusan SMK harus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, bukan menambah panjang antrean pencari kerja,” tegas Renny di Surabaya, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, filosofi dasar pendidikan SMK sejak awal adalah mempersiapkan tenaga kerja terampil yang siap memasuki dunia usaha dan dunia industri (link and match). Oleh karena itu, peningkatan kuantitas lulusan harus dibarengi dengan kebijakan makro yang mampu menghubungkan sistem pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja.
“SMK dirancang untuk mencetak tenaga kerja siap pakai. Artinya, negara juga berkewajiban memastikan sektor industri mampu menyerap mereka. Dunia pendidikan dan dunia usaha tidak boleh berjalan sendiri-sendiri,” lanjut Bendahara DPD PDI-P Jawa Timur tersebut.
Renny mengidentifikasi sejumlah sektor potensial yang diproyeksikan memiliki daya serap tinggi terhadap lulusan SMK dalam beberapa tahun ke depan. Sektor-sektor tersebut meliputi industri manufaktur, industri kreatif, ekonomi digital, kendaraan listrik, energi baru terbarukan (EBT), hingga industri kesehatan.
“Jika kebutuhan industri dan kompetensi lulusan dapat dipertemukan, lulusan SMK tidak hanya akan mudah mendapatkan pekerjaan, melainkan juga mampu mendongkrak produktivitas serta daya saing daerah,” tambahnya.
Di sisi lain, Renny turut mengapresiasi tren positif ketenagakerjaan di wilayah Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur per Februari 2026, jumlah penduduk yang bekerja telah mencapai 24,25 juta orang, atau meningkat sekitar 388 ribu orang dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dampaknya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Timur juga berhasil ditekan turun menjadi 3,55 persen.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Kendati demikian, ia mengingatkan pemerintah daerah agar tidak sekadar mengejar penurunan angka pengangguran secara kuantitatif. Tantangan utamanya adalah meningkatkan kualitas lapangan kerja formal yang mampu menawarkan penghasilan layak, jaminan perlindungan tenaga kerja, serta jenjang karier yang jelas bagi generasi muda.
“Jawa Timur sudah menunjukkan tren performa yang baik. Tantangan berikutnya adalah memastikan semakin banyak anak muda kita yang memperoleh pekerjaan layak, produktif, dan memberikan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

















































































