Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI, Ida Nurlaela Wiradinata, menyoroti masih kompleksnya persoalan yang membelit Perum Bulog, mulai dari penyimpanan beras, distribusi, hingga tata kelola harga yang dinilai belum optimal.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menurunkan mutu beras dan berdampak langsung pada masyarakat serta kesejahteraan petani.
“Saya mewakili masyarakat yang ada di Indonesia tentang permasalahan utama di Bulog,” ujar Ida dalam keterangannya dikutip Sabtu (31/1).
Ia menjelaskan, permasalahan mendasar Bulog mencakup lemahnya sistem penyimpanan yang berisiko merusak mutu beras akibat stok yang terlalu lama disimpan.
“Jadi Perum Bulog ini mencangkup ada kekurangan permasalahan dalam penyimpanan mutu beras, Pak. Di sini akan bersikot terhadap rusaknya mutu dan akibat penyimpanan stoknya terlalu lama,” katanya.
Selain itu, Ida juga menyoroti persoalan distribusi dan harga. Menurutnya, keterlambatan penyaluran beras serta tata kelola harga yang belum rapi membuat harga beras dinilai mahal di tingkat masyarakat.
“Kemudian juga distribusi waktu itu sangat terlambat, Pak. Masalah tata kelola harga juga mahal,” ujarnya.
Tak hanya itu, Ida mengungkap adanya dugaan praktik oplosan hingga markup, termasuk persoalan impor dan tantangan operasional di lapangan.
“Banyak juga ada praktik pengoblosan hingga dugaan markup, import, serta tantangan operasional seperti kurangan pengering kualitas dari beras yang SPHP-nya dianggap kurang pulun karena kekurangan kadar air,” jelasnya.
Padahal, lanjut Ida, Bulog merupakan lembaga yang ditugaskan langsung oleh negara untuk menjaga kualitas pangan nasional.
“Bulog ini salah satu yang ditugaskan oleh negara untuk menjadikan kualitas produk beras yang ada di Indonesia ini berkualitas. Karena kita merupakan daerah agraris tropis,” tegasnya.
Di sisi lain, Ida mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap sektor pangan melalui kebijakan anggaran dan program ketahanan pangan.
“Alhamdulillah saat ini kebijakan anggaran juga alhamdulillah sangat diperhatikan oleh negara. Sehingga memang program ketahanan pangan juga itu akan menjadikan proyeksi yang sangat menantikan oleh masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, persoalan pangan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nasib petani.
“Yang hampir seluruhnya masalah Indonesia adalah para petani. Kami juga harus menyatakan bahwa petani jangan selalu merugi,” ujarnya.
Menurut Ida, Bulog seharusnya mampu berperan lebih besar sebagai penopang kesejahteraan petani dan jembatan antara produksi pangan dengan kebutuhan masyarakat.
“Padahal dengan adanya Bulog ini juga mungkin bisa memberikan pernyataan kepada masyarakat bahwa dengan Bulog ini merupakan salah satu penyambung untuk kesejahteraan masyarakat petani,” pungkasnya.

















































































