Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, M.S., menegaskan pentingnya sinergi antara Nahdlatul Ulama (NU) dan PDI Perjuangan dalam menjaga persatuan bangsa dan membangun peradaban Indonesia yang berlandaskan nilai religius, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri peringatan Hari Lahir ke-100 Nahdlatul Ulama yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Sabtu (31/1/2026).
“NU telah terbukti selama satu abad menjadi penjaga moral bangsa, penguat persatuan, serta mitra strategis dalam mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban yang mulia,” kata Rokhmin Dahuri yang hadir mewakili Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri.
Peringatan satu abad NU tersebut mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia” dan dihadiri ribuan santri dan santriwati dari berbagai daerah di Indonesia. Lebih dari 1.000 santri memadati kawasan Istora, menciptakan suasana penuh khidmat dan semangat kebersamaan melalui lantunan shalawat, doa, serta orasi kebangsaan.
Acara akbar ini juga dihadiri sejumlah pimpinan lembaga negara dan menteri kabinet, di antaranya Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Menko PMK Prof. Dr. Pratikno, Menteri Agama Prof. KH. Nasaruddin Umar, Menteri Pekerjaan Umum Ir. Dody Hanggodo, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, serta Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria.
Selain unsur pemerintah, sejumlah pimpinan partai politik lintas partai turut hadir memberikan penghormatan, seperti Presiden PKS Dr. H. Al Muzzammil Yusuf dan Ketua Umum PPP Dr. H. M. Mardiono. Kehadiran berbagai elemen tersebut menegaskan posisi NU sebagai kekuatan moral bangsa yang mampu merangkul seluruh komponen nasional.
Dalam rangkaian sambutan, para tokoh bangsa menekankan peran strategis NU sebagai penjaga moderasi beragama, persatuan nasional, dan nilai-nilai kebangsaan. Peringatan satu abad NU disebut bukan sekadar perayaan historis, melainkan momentum menatap masa depan Indonesia dengan tekad memperkuat peradaban yang adil dan bermartabat.
Acara ditutup dengan doa bersama serta penampilan seni budaya Islam Nusantara. Antusiasme para santri yang memenuhi Istora menjadi simbol kuat bahwa NU akan terus berdiri di garda terdepan dalam mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban yang lebih maju dan berkeadaban.

















































































