Ikuti Kami

Keracunan Massal MBG Semarang, Sukur Nababan Desak Evaluasi Total dan Usut Tuntas

Program yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan peserta didik sama sekali tidak boleh menciptakan risiko baru bagi keselamatan mereka.

Keracunan Massal MBG Semarang, Sukur Nababan Desak Evaluasi Total dan Usut Tuntas
Anggota Komisi IX DPR RI, Sukur Hamonangan Nababan.

​Jakarta, Gesuri.id — Anggota Komisi IX DPR RI, Sukur Hamonangan Nababan, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus kritik keras atas insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SMKN 6 Semarang akibat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

​Sukur menegaskan bahwa perluasan program pemenuhan gizi anak tidak boleh mengesampingkan standar keselamatan dan keamanan pangan. Menurutnya, program yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan peserta didik sama sekali tidak boleh menciptakan risiko baru bagi keselamatan mereka.

Baca: Ini 3 Faktor yang Membuat Ganjar Pranowo Menjadi Capres Terkuat!

​"Usut tuntas kasus keracunan yang terjadi di Semarang. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait harus dievaluasi, dan Badan Gizi Nasional (BGN) wajib menjamin Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai tujuan awal: gizinya terpenuhi dan keamanannya terlindungi," tegas Sukur.

​Mewakili Fraksi PDI Perjuangan, Sukur menyuarakan tiga tuntutan utama kepada pemerintah:

1. ​Investigasi Transparan: Melakukan pengusutan secara menyeluruh dan terbuka untuk membongkar penyebab pasti keracunan, mencakup seluruh alur pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga standar keamanan bahan pangan.

2. ​Penguatan Pengawasan & Audit: Meminta BGN, Kementerian Kesehatan, dan pemerintah daerah memperketat standar keamanan pangan, menjalankan pengawasan berkala, serta mengaudit seluruh dapur dan penyedia jasa MBG.

Baca: Empat Keberhasilan Ganjar Pranowo Selama Menjadi Gubernur

3. ​Keselamatan sebagai Indikator Utama: Menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan peserta didik harus menjadi tolok ukur utama keberhasilan MBG, bukan sekadar mengejar tingginya angka cakupan penerima manfaat.

​Sukur mengingatkan bahwa Badan Gizi Nasional harus bertanggung jawab memastikan seluruh makanan yang didistribusikan benar-benar aman dikonsumsi.

​Laporan Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat sebanyak 707 orang menjadi korban dalam insiden ini dengan gejala pusing, mual, muntah, dan diare. Pihak BGN mengindikasikan dugaan awal dipicu oleh kualitas bahan makanan serta proses memasak yang dilakukan terlalu dini sebelum distribusi.

Quote