Medan, Gesuri.id — Kecerdasan intelektual semata dinilai tidak cukup untuk membawa seseorang menjadi pemimpin bangsa yang berhasil. Kemampuan merasakan penderitaan orang lain serta memiliki empati mendalam menjadi kunci utama yang wajib dimiliki oleh generasi muda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Pesan moral mendalam tersebut disampaikan oleh Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, dalam ajang bertajuk "Barongsai, Melestarikan Tradisi Mengukir Prestasi" di Lobi Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka, Medan, Kamis (24/9). Acara meriah ini terselenggara atas kolaborasi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI bersama Komisi X DPR RI.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Pengurus Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, civitas akademika Universitas ST Bhinneka, perwakilan Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Sumatera Utara—Coach Vicktor dan David Candra—serta para atlet barongsai dari lima sekolah terkemuka di Medan (SMA Sultan Iskandar Muda, SMA Budi Utomo, SMA Bodhicitta, SMA Cinta Budaya, dan SMA Mian Zhong).
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Sofyan Tan mengulas sejarah panjang pertunjukan barongsai yang bermula dari Dinasti Ming di Tiongkok hingga berkembang pesat ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Ia menjelaskan bahwa barongsai bukan sekadar seni pertunjukan visual, melainkan kombinasi ketangkasan seni bela diri wushu dan keindahan gerak tari.
"Tarian barongsai membutuhkan kekuatan fisik dan kekompakan tingkat tinggi. Umumnya para pemainnya adalah atlet wushu yang memiliki otot kaki sangat kuat untuk menopang beban rekan-rekannya," ujar legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut 1 tersebut.
Lebih jauh, Sofyan Tan menyoroti filosofi mendalam di balik atraksi barongsai, khususnya nilai kesetaraan dan kerja sama tim. Menurutnya, pemain di posisi depan maupun belakang memiliki kontribusi dan nilai yang sama pentingnya.
"Antara pemain depan dan belakang tidak ada yang lebih hebat, semuanya memiliki peran yang sama. Mereka harus punya irama yang sehati. Pemain di belakang bahkan bisa merasakan gerakan teman di depannya tanpa melihat langsung. Ini membuktikan bahwa bermain barongsai melatih kepekaan hati dan empati untuk memahami orang lain," ungkap Sofyan.
Ia menegaskan bahwa sosok pemimpin masa depan yang dibutuhkan bangsa bukan hanya orang pintar di atas kertas, melainkan sosok yang memiliki kelembutan hati untuk merangkul masyarakat.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
"Orang pintar saja tidak otomatis sukses atau menjadi pemimpin hebat. Namun, orang pintar yang memiliki kepekaan rasa, punya empati, dan sanggup merasakan penderitaan orang lain, itulah sosok yang akan menjadi pemimpin masa depan," tambahnya.
Mengakhiri sambutannya, Sofyan Tan menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kemenpora RI, FOBI Sumut, para pelatih, serta seluruh siswa dari lima sekolah yang tampil penuh semangat. Ia berharap ajang ini terus memicu pemuda untuk melestarikan tradisi budaya sekaligus mengukir prestasi nasional.
Suasana kian semarak saat kelima tim barongsai menunjukkan kebolehannya. Dengan lincah, para atlet melompat dan meliuk-liuk menaiki anak tangga di antara kerumunan penonton. Para pengunjung memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto dan merekam dari dekat, meski beberapa peserta tampak panik gembira saat dihampiri oleh barongsai.

















































































