Ikuti Kami

Literasi Geopolitik di UBK, Pembicara Ingatkan Hegemoni Budaya dan Dekolonialisasi

Margaretha Hanita dan Bonnie Triyana Bedah Literasi Geopolitik bagi Gen-Z di Kampus UBK.

Literasi Geopolitik di UBK, Pembicara Ingatkan Hegemoni Budaya dan Dekolonialisasi

Jakarta, Gesuri.id – Dosen dan Peneliti Universitas Pertahanan (Unhan) RI Margaretha Hanita bersama Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana membedah krusialnya penguatan literasi geopolitik bagi Generasi Z (Gen-Z) guna membendung hegemoni global sekaligus merawat kedaulatan bangsa.

Keduanya memandang, pemahaman geopolitik dan perspektif sejarah mutlak diresapi generasi muda agar tidak terjebak dalam belenggu cara pandang asing (captive mind) serta memiliki kesadaran ruang kewilayahan yang kokoh.

Paparan tersebut disampaikan dalam agenda 'Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen-Z' bertajuk "Memahami Dunia, Memperkuat Indonesia" di Aula Soekarno, Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2026).

Dalam paparannya, Margaretha Hanita menilai pelatihan literasi geopolitik bagi mahasiswa ini menjadi tonggak sejarah baru dalam lanskap pendidikan tinggi di tanah air, terlebih di tengah derasnya arus disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo

Margaretha yang berpengalaman meneliti kawasan perbatasan dan pulau-pulau terluar Indonesia selama 20 tahun terakhir menekankan bahwa geopolitik pada hakikatnya membentuk kesadaran teritorial (territorial awareness), sebagaimana yang selalu ditekankan oleh Bung Karno.

"Belajar geopolitik itu betul-betul membentuk kesadaran akan ruang dan teritorial Indonesia. Berkeliling di hampir semua wilayah perbatasan dan pulau terluar memberikan kesadaran ruang yang luar biasa penting," ujar Margaretha.

Margaretha menguraikan empat karakter utama geopolitik dunia, yakni strategi ekspansionis, penguasaan sumber daya alam, hegemoni, hingga eskalasi perang terbuka.

Ia mengingatkan bahwa hegemoni kontemporer saat ini bekerja secara halus dan menyusup ke ruang kehidupan Gen-Z melalui industri budaya populer (popular culture), mulai dari film pahlawan super Hollywood hingga drama Korea.

"Geopolitik tidak hanya dibentuk oleh pemimpin negara atau wilayah, tetapi popular culture bisa menguasai suatu negara lain, terutama Gen-Z. Ini
representasi media yang sangat emosional dan tanpa disadari memicu polarisasi sosial di dunia digital," jelasnya seraya mengingatkan posisi strategis Indonesia di titik genting (choke point) Indo-Pasifik yang menuntut prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Melengkapi perspektif pertahanan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana mengupas geopolitik dari kacamata dekolonialisasi dan rekam jejak historis pemikiran Bung Karno.

Bonnie menegaskan, meski penjajahan fisik telah lama usai pasca-Perang Dunia II, sisa-sisa pola kekuasaan penjajahan (coloniality of power) masih bertahan kuat hingga hari ini melalui dominasi ekonomi, ketimpangan institusi global, hingga ketergantungan epistemik.

"Penjajahan secara fisik dan administrasi sudah selesai, tapi esensi kolonialisme dalam pengertian kolonialitas masih berlangsung. Mulai dari kontrol ekonomi yang menempatkan kita hanya sebagai produsen barang mentah, hingga hegemoni pengetahuan yang membuat kita inferior dan merasa kebenaran ilmiah harus selalu berkiblat ke Barat," kata Bonnie.

Sejarawan ini menggarisbawahi bahwa ajaran Trisakti Bung Karno - berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan—tidak boleh direduksi menjadi sekadar slogan atau jargon semata.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

"Trisakti itu bukan sekadar semboyan, melainkan metode kerja pembebasan nasional dan metode perjuangan dekolonialisasi," tegasnya.

Bonnie mencontohkan langkah konkret dekolonisasi era Bung Karno, mulai dari pembaruan ejaan bahasa, inisiasi Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955, perlawanan terhadap pangkalan militer asing, Deklarasi Ekonomi (Dekon), hingga penciptaan ruang kebudayaan hibrid yang mengangkat kesenian rakyat ke panggung modern tanpa mengimitasi Barat mentah-mentah.

Kegiatan pelatihan literasi geopolitik ini diinisiasi langsung oleh Dosen UBK yang juga Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan dibuka oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Soekarno Rommy Soekarno.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Gubernur Lemhannas RI periode 2022–2023 Andi Widjajanto, akademisi Franky Paulus Roring selaku moderator, jajaran dekanat dan dosen UBK, serta perwakilan mahasiswa UBK yang bertindak sebagai penanggap, yakni Kurnia Aryasatya dan Chrisostomos Inuhan.

Quote