Ikuti Kami

Margaretha Hanita Tekankan Pentingnya Literasi Geopolitik bagi Generasi Z di Era Digital

Literasi geopolitik tidak hanya diperlukan oleh generasi muda, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat.

Margaretha Hanita Tekankan Pentingnya Literasi Geopolitik bagi Generasi Z di Era Digital
Dosen dan Peneliti Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Margaretha Hanita.

Jakarta, Gesuri.id – Dosen dan Peneliti Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Margaretha Hanita, menekankan pentingnya penguatan literasi geopolitik bagi generasi muda, khususnya Generasi Z, dalam menghadapi dinamika global, perkembangan teknologi, serta berbagai tantangan ketahanan nasional.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri kegiatan Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik bagi Generasi Z yang diselenggarakan di Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, Rabu (4/11).

Dalam pemaparannya, Margaretha mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut karena mengangkat literasi geopolitik sebagai salah satu aspek penting dalam membangun kesadaran kebangsaan generasi muda.

Menurutnya, kegiatan semacam ini perlu diperluas ke berbagai perguruan tinggi agar semakin banyak mahasiswa memahami posisi dan kepentingan strategis Indonesia dalam percaturan global.

Baiterasi geopolitik tidak hanya diperlukan oleh generasi muda, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

"Saya sangat tertarik dengan kegiatan ini karena menggunakan kata kunci literasi geopolitik. Menurut saya, ini sangat penting dan dapat menjadi sebuah tonggak dalam pendidikan geopolitik di Indonesia. Saya berharap kegiatan seperti ini tidak hanya dilaksanakan di Universitas Bung Karno, tetapi juga dapat menjangkau lebih banyak perguruan tinggi," ungkap Margaretha.

Ia menjelaskan, literasi geopolitik tidak hanya diperlukan oleh generasi muda, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat. Rendahnya pemahaman terhadap dinamika geopolitik dapat menyebabkan masyarakat mudah terpengaruh informasi, narasi, maupun kepentingan pihak lain yang belum tentu sejalan dengan kepentingan nasional.

Berbekal pengalaman hampir 20 tahun melakukan penelitian di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan perbatasan, Margaretha menilai bahwa pemahaman geopolitik berperan penting dalam membangun kesadaran mengenai identitas, posisi geografis, serta kepentingan strategis bangsa Indonesia.

Menurutnya, Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat strategis di kawasan Indo-Pasifik. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia memiliki kepentingan untuk membangun hubungan baik dengan berbagai negara sekaligus menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.

"Indonesia harus berteman dengan siapa saja. Posisi geografis Indonesia sangat strategis sehingga kita perlu membangun hubungan dengan berbagai negara. Namun, pada saat yang sama, kita juga harus memahami bagaimana menjaga kepentingan nasional di tengah persaingan dan dinamika kekuatan global," jelasnya.

Lebih lanjut, Margaretha menguraikan bahwa geopolitik saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan penguasaan wilayah dan kekuatan militer. Perkembangannya telah meluas ke berbagai bidang, seperti ekonomi, budaya, media, energi, perubahan iklim, teknologi digital, hingga kecerdasan buatan (AI).

Ia menyoroti bagaimana pengaruh budaya populer dan media digital dapat membentuk identitas masyarakat serta memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap suatu negara. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pengaruh geopolitik dapat berlangsung melalui jalur nonmiliter, termasuk budaya, musik, film, kuliner, dan gaya hidup.

Selain itu, perkembangan media digital juga menghadirkan tantangan berupa polarisasi sosial dan politik. Arus informasi yang begitu cepat memungkinkan masyarakat terpengaruh oleh berbagai narasi yang berpotensi memecah belah persatuan apabila tidak disertai kemampuan berpikir kritis dan literasi digital yang memadai.

Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan Generasi Z agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang diterima melalui berbagai platform digital.

Margaretha juga menyoroti pentingnya memahami hubungan antara geopolitik, energi, perubahan iklim, dan ketahanan nasional. Menurutnya, dinamika global dapat berdampak langsung terhadap ketersediaan energi, pangan, lingkungan, serta stabilitas nasional.

"Ketahanan nasional sebenarnya diuji ketika sebuah negara menghadapi krisis. Ketika mampu menghadapi berbagai guncangan dan memiliki strategi untuk bertahan serta beradaptasi, di situlah ketahanan sebuah negara dapat terlihat," paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Margaretha turut mendorong mahasiswa untuk memperkuat budaya membaca buku sebagai fondasi memahami geopolitik secara komprehensif. Ia menilai bahwa perkembangan isu global tidak cukup dipahami hanya melalui potongan informasi di media sosial, tetapi membutuhkan kajian mendalam dan pemahaman konseptual.

Ia juga mengajak mahasiswa mempelajari berbagai perkembangan geopolitik, mulai dari persaingan hegemoni, perang teknologi dan semikonduktor (chip war), transisi energi, hingga pengaruh kecerdasan buatan terhadap hubungan antarnegara.

Baca: Berita kumpulan ganjar pranowo hari ini 

Menurutnya, AI dan perkembangan teknologi digital telah membuka dimensi baru dalam persaingan global. Penguasaan teknologi, infrastruktur digital, serta pusat data menjadi bagian penting dari kepentingan strategis negara di masa depan.

Menutup pemaparannya, Margaretha mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kesadaran etika dan nilai-nilai kebangsaan. Generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai warga negara.

"Jangan hanya berbicara tentang AI dan perkembangan teknologi, tetapi kita juga harus mampu menghadapi tantangan yang muncul dari era tersebut. Etika digital harus diperkuat. Mengamalkan nilai-nilai Pancasila di ruang digital bukan sesuatu yang mustahil, melainkan hal yang memang harus kita lakukan," tegasnya.

Melalui kegiatan pelatihan ini, diharapkan Generasi Z semakin memahami posisi strategis Indonesia, memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap dinamika global, serta mampu mengambil peran sebagai generasi penerus dalam menjaga kedaulatan, persatuan, dan ketahanan nasional.

Quote