Jakarta, Gesuri.id - Kebijakan pemerintah yang membuka penggalangan donasi publik untuk korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menuai kritik keras dari PDI Perjuangan.
Partai berlambang banteng tersebut mempertanyakan komitmen dan kesiapan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam merespons tanggap darurat bencana.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa penanganan bencana seharusnya menjadi bagian prioritas utama dari anggaran negara. Menurutnya, sebagai negara yang berada di kawasan Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), Indonesia wajib memiliki dana cadangan yang siap pakai tanpa bergantung pada sumbangan masyarakat.
"Seharusnya alokasi anggaran untuk bencana sosial itu sudah diprioritaskan. Kita ini negara kepulauan dengan potensi bencana yang cukup besar," ujar Hasto usai melepas Kapal Rumah Sakit Apung Laksamana Malahayati menuju NTT di Cilegon, Banten, Kamis malam (20/8).
Hasto mengingatkan bahwa risiko bencana di Indonesia sangat kompleks, mulai dari "bencana basah" seperti banjir dan cuaca ekstrem, hingga "bencana kering" seperti kekeringan hebat dan kebakaran hutan akibat iklim Super El Nino.
Dengan dinamika ancaman yang bervariasi tersebut, ia menilai pemerintah tidak boleh pasif dan baru reaktif bertindak setelah jatuh korban.
"Negara seharusnya turun paling pertama untuk membantu rakyat dengan melakukan mitigasi dan antisipasi terhadap berbagai kemungkinan bencana," tegasnya.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Lebih lanjut, Hasto mendesak pemerintah untuk menata ulang tata ruang wilayah berbasis mitigasi bencana serta memperbesar porsi dana bantuan sosial dan tanggap darurat di dalam APBN. Kesiapsiagaan fiskal dianggap sebagai tolok ukur utama hadirnya negara saat masyarakat tertimpa musibah.
"Sistem tata ruangnya dan alokasi dana bantuan sosial dalam APBN harus lebih diprioritaskan untuk mengantisipasi tingginya risiko bencana di Tanah Air," pungkas Hasto.

















































































