Ikuti Kami

Wujudkan Pendidikan Berkeadilan, Sofyan Tan Praktikkan Nilai 4 Pilar MPR RI di Medan

Menurut Sofyan, negara wajib hadir untuk menjamin seluruh anak Indonesia memperoleh hak pendidikan yang sama.

Wujudkan Pendidikan Berkeadilan, Sofyan Tan Praktikkan Nilai 4 Pilar MPR RI di Medan
Anggota MPR/DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan.

Medan, Gesuri.id – Anggota MPR/DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, menegaskan bahwa implementasi nilai-nilai 4 Pilar MPR RI harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Salah satu langkah krusialnya adalah dengan memberikan akses pendidikan yang setara, adil, dan berkualitas bagi seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang sosial.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI (Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) di Auditorium Djonny Taslim, Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Jalan T.B. Simatupang, Medan Sunggal, Kota Medan, Sabtu (18/7). Agenda ini dihadiri oleh para pimpinan yayasan, kepala sekolah, serta pengelola satuan pendidikan dari Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang.

Dalam paparannya, anggota Komisi X DPR RI ini menyoroti pentingnya pemerataan akses pendidikan sebagai amanat konstitusi sekaligus ejawantah nilai keadilan sosial Pancasila. Menurut Sofyan, negara wajib hadir untuk menjamin seluruh anak Indonesia memperoleh hak pendidikan yang sama.

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

Sofyan Tan menyampaikan bahwa kebijakan wajib belajar 13 tahun yang setara dan berkeadilan harus menjadi tanggung jawab penuh negara. Sejalan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK), ia menekankan tidak boleh ada lagi dikotomi atau perbedaan perlakuan antara sekolah negeri dan swasta dalam pemenuhan hak pendidikan masyarakat.

"Seluruh siswa harus bisa menikmati pendidikan gratis selama 13 tahun, baik yang bersekolah di sekolah negeri maupun swasta, sesuai amanat Putusan Mahkamah Konstitusi," tegas Sofyan.

Selain masalah pembiayaan, Sofyan juga mendesak percepatan revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan. Pemerintah diminta segera memperbaiki sekolah-sekolah yang rusak serta membangun ruang kelas baru bagi sekolah yang daya tampungnya terbatas, demi mengoptimalkan proses belajar-mengajar.

Dalam sosialisasi ini, Sofyan Tan memilih pendekatan yang berbeda. Ia lebih suka memaparkan contoh nyata ketimbang sekadar mengulas teori. Nilai-nilai kebangsaan menurutnya akan jauh lebih mudah dipahami jika diwujudkan dalam kebijakan dan praktik yang langsung dirasakan oleh masyarakat.

Ia kemudian membagikan pengalamannya dalam mendirikan Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) sebagai potret nyata implementasi 4 Pilar di dunia pendidikan. Saat ini, YPSIM telah menaungi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, hingga Universitas Satya Terra Bhinneka.

Ke depan, YPSIM berencana membangun sekolah khusus bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Sekolah ini dirancang tidak hanya untuk memberikan layanan pendidikan formal, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan produktif dan kemampuan ekonomi agar mereka bisa mandiri.

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

Menurut Sofyan, anak-anak berkebutuhan khusus harus diberikan ruang luas untuk mengembangkan potensi, membangun rasa percaya diri, serta memperoleh keahlian praktis seperti bercocok tanam yang memiliki nilai ekonomis.

"Saya tidak menyosialisasikan 4 Pilar berbangsa dan bernegara dengan teori, tetapi saya tunjukkan bagaimana praktiknya dan bagaimana nilai-nilai itu dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang Bapak dan Ibu pimpin," ungkapnya di hadapan peserta.

Sebagai Ketua Dewan Pembina YPSIM, Sofyan berharap praktik baik ini dapat direplikasi oleh berbagai lembaga pendidikan di Indonesia. Ia optimistis, jika implementasi 4 Pilar terintegrasi dalam keseharian sekolah, akan lahir generasi muda yang menjunjung tinggi toleransi, keadilan, persatuan, dan kepedulian sosial sebagai modal membangun masa depan bangsa.

Quote