Serang, Gesuri.id — Lonjakan kasus virus Influenza A di Provinsi Banten yang menembus angka 387.250 kasus mendapat perhatian serius dari kalangan legislatif.
Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi PDI Perjuangan, Yeremia Mendrofa, mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah mitigasi konkret tanpa memicu kepanikan publik.
Yeremia menegaskan, meski Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten menyatakan tingkat kegawatdaruratan relatif rendah, jumlah kasus yang besar dan tersebar merata di seluruh kabupaten/kota tidak boleh dianggap remeh.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
“Angka 387.250 kasus Influenza A harus jadi perhatian serius bersama. Meskipun Dinkes menyampaikan tingkat kegawatdaruratannya masih rendah, jumlah yang besar dan penyebarannya yang merata menunjukkan bahwa kita tidak boleh menganggap persoalan ini sepele,” tegas Yeremia, Selasa (6/10).
Yeremia menyoroti pentingnya penguatan data epidemiologis untuk menentukan arah kebijakan penanganan. Ia mendorong Dinkes untuk memperkuat sistem pengawasan (surveilans), pencegahan, dan edukasi publik ketimbang memicu keresahan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah perlu memetakan tren kenaikan kasus, wilayah penularan tertinggi, kelompok usia rentan, tingkat keterisian rumah sakit, hingga rasio pasien bergejala berat.
Terkait tingginya interaksi antar-siswa di lingkungan sekolah, Yeremia menilai opsi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring belum perlu diterapkan secara menyeluruh di seluruh Banten. Sebaliknya, ia menyarankan kebijakan berbasis tingkat risiko di setiap wilayah atau satuan pendidikan.
“Pembelajaran daring tidak perlu diberlakukan menyeluruh hanya berdasarkan tingginya angka kasus. Kebijakannya sebaiknya berbasis wilayah dan tingkat risiko. Jika di satu sekolah terjadi lonjakan kasus signifikan, opsi belajar dari rumah sementara bisa diambil,” ujarnya.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Lebih lanjut, Yeremia meminta orang tua tidak memaksakan anak yang sakit untuk tetap bersekolah. Di sisi lain, pihak sekolah diimbau tidak memberikan stigma negatif kepada siswa bergejala flu.
“Mekanisme yang perlu dibangun adalah 'anak sakit belajar dari rumah, anak sehat tetap belajar di sekolah.' Orang tua juga harus segera memeriksakan anak jika gejala tidak kunjung membaik,” tambah Yeremia.
Sebagai langkah konkret, Yeremia mendesak Dinas Kesehatan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten untuk segera merumuskan early warning system (sistem peringatan dini). Sistem ini diharapkan memuat panduan jernih terkait indikator penutupan sementara sekolah serta syarat pembukaan kembali pembelajaran tatap muka.
“Intinya kita tidak boleh panik, tetapi jangan lengah. Angka 387.250 kasus harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat deteksi dini, pelayanan kesehatan, edukasi, dan koordinasi lintas sektor. Hak pendidikan anak dan perlindungan kesehatan mereka harus berjalan selaras,” pungkasnya.

















































































