Ikuti Kami

Jelang Pilkada Bali, PDI Perjuangan Dominasi Polling Online

Dalam polling online StrawPoll sepekan terakhir, kader-kader PDI Perjuangan mendominasi.

Jelang Pilkada Bali, PDI Perjuangan Dominasi Polling Online
Ilustrasi. Dalam polling online StrawPoll sepekan terakhir, kader-kader PDI Perjuangan mendominasi.

Denpasar, Gesuri.id - Sejumlah nama muncul dalam polling online sebagai kandidat Calon Walikota Denpasar ke Pilkada 2020. Dalam polling online StrawPoll yang beredar sejak sepekan terakhir ini, kader-kader PDI Perjuangan mendominasi.

Kader Banteng yang muncul dalam polling online ini, antara lain, I Gusti Ngurah Jaya Negara (politisi asal Desa Penatih, Kecamatan Denpasar Timur yang kini menjabat Wakil Walikota Denpasar dan Sekretaris DPID PDI Perjuangan Bali), I Gusti Ngurah Gede (politisi asal Kelurahan Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Denpasar sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Denpasar), Kadek Arya Wibawa (politisi asal Desa Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan yang kini Sekretaris DPC PDI Perjuangan Denpasar dan sudah 4 periode duduk di DPRD Denpasar), dan I Gusti Agung Rai Wirajaya (politisi PDI Perjuangan asal Desa Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara yang sudah tiga periode duduk di DPR RI Dapil Bali). Demikian seperti dikutip dari laman nusabali.com, Kamis (20/6).

Baca: PDI Perjuangan Optimis Usung Kader di Pilkada Jembrana

Sedangkan kader Golkar yang muncul adalah I Ketut Suwandhi (tokoh asal Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin Puri Kauh, Kecamatan Denpasar Utara yang kini menjabat Ketua Komisi II DPRD Bali) dan I Wayan Mariyana Wandira (politisi asal Desa Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan yang kini Ketua DPD II Golkar Denpasar dan menjabat Wakil Ketua DPRD Denpasar). 

Juga muncul nama I Wayan Subawa, politisi Golkar asal Desa Sumerta Kauh, Kecamatan Denpasar Timur yang saat ini menjabat sebagai Bendesa Adat Pagan. Sebelumnya, mantan Sekda Badung ini sempat diusung Golkar sebagai Cawali Denpasar di Pilkada 2010, namun dipecundangi IB Rai Dharmawijaya Mantra yang diusung PDIP.

Sementara dari Demokrat, muncul nama AA Ketut Asmara Putra alias Gus Cilik, politisi asal Kelurahan Padangsambian, Kecamatan Denpasar Barat yang kini menjabat Ketua DPC Demokrat Denpasar dan sekaligus Wakil Ketua DPRD Denpasar. Dari Gerindra, muncul nama Made Mulyawan Arya alias De Gajah, politisi asal Desa Tegal Kerta, Kecamatan Denpasar Barat yang kini Ketua DPC Gerindra Denpasar dan sekaligus Wakil Ketua DPRD Denpasar. Ketua DPD Gerindra Bali, IB Putu Sukarta, juga masuk bursa di polling online.

Sebaliknya, dari kalangan birokrasi, muncul nama I Gusti Ayu Bintang Puspa-yoga, Asisten II Setda Kota Denpasar. Bintang Puspayoga adalah Srikandi asal Puri Satria Denpasar yang notabene merupakan istri dari Menteri Koperasi & UKM AA Gede Ngurah Puspayoga. Selain Bintang Puspayoga, juga muncul nama AA Ngurah Rai Iswara, birokrat asal Desa Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat yang masih menjabat Sekda Kota Denpasar. 

Ketua DPC PDI Perjuangan Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, mengatakan kemunculan nama-bama kandidat Cawali Denpasar yang didominasi kader Banteng dalam polling online, sah-sah saja sebagai aspirasi di bawah. Termasuk kemunculan nama dirinya di polling online, Ngurah Gede mengaku tidak terlalu menanggapi. “Tapi, kami di partai kan ada mekanisme, ada proses. Orang kita belum ada proses kok (menuju Pilkada Denpasar 2020, Red). Ya, kita ikuti proses di partai saja,” ujar Ngurah Gede saat dikonfirmasi NusaBali, Rabu (19/6).

Baca: 1.213.075 Suara Antarkan Koster Jadi Gubernur Bali

Sementara itu, pengamat politik dari Undiknas Denpasar, Dr Nyoman Subanda MSi, mengatakan polling online bisa saja dilempar tim sukses atau memang dibuat kandidat itu sendiri sebagai alat ukur. Hal itu ah-sah saja. Apalagi, media sosial sangat mantap dipakai untuk pencitraaan. “Sah-sah saja, karena itu cara mudah menguji elektabilitas kandidat. Ini juga mencerminkan keinginan masyarakat. Buat sementara, ini memang mulai diterapkan oleh politisi,” ujar Subanda.

Menurut Subanda, biasanya respons publik dengan polling ini belum tentu sama dengan realita politik di bawah. “Tapi, sekali lagi polling ini jadi ajang pencitraan juga. Menguji aseptabilitas, elektabilitas,” terang pria asal Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng ini.

Quote