Ikuti Kami

Cegah Pengangguran Terdidik, Wibowo Prasetyo Dorong Mahasiswa UNSIQ Bangun Portofolio Sejak Kuliah

Wibowo mengingatkan para mahasiswa agar tidak hanya bergantung pada ijazah formal untuk meraih karier masa depan.

Cegah Pengangguran Terdidik, Wibowo Prasetyo Dorong Mahasiswa UNSIQ Bangun Portofolio Sejak Kuliah
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, H. Wibowo Prasetyo.

Jakarta, Gesuri.id - Perkembangan pesat kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan transformasi digital diprediksi akan mengubah peta dunia kerja secara signifikan dalam lima tahun ke depan. 

Menanggapi fenomena ini, Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, H. Wibowo Prasetyo, mengingatkan para mahasiswa agar tidak hanya bergantung pada ijazah formal untuk meraih karier masa depan.

​Pesan tegas tersebut disampaikan Wibowo saat menjadi narasumber dalam seminar bertajuk “Strategi Pengembangan Karier dan Peningkatan Daya Saing Mahasiswa Menuju Dunia Kerja Profesional” di Wonosobo, Jumat (23/10/2026). 

Baca: Empat Keberhasilan Ganjar Pranowo Selama Menjadi Gubernur

Seminar yang diikuti sekitar 250 mahasiswa Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo ini diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag RI dan UIN Walisongo Semarang.

​Wibowo menyoroti realitas pasar kerja nasional yang masih dibayangi tingginya angka pengangguran terdidik. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,22 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen. Mirisnya, data BPS Agustus 2025 mencatat sekitar 1,05 juta di antaranya merupakan lulusan diploma dan sarjana.

​“Data ini memperlihatkan bahwa ijazah perguruan tinggi tidak otomatis menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan. Mahasiswa harus mulai membangun kompetensi dan pengalaman sejak kuliah. Jangan menunggu wisuda baru memikirkan masa depan karier,” tegas legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VI tersebut.

​Wibowo menjelaskan, disrupsi teknologi melalui AI dan otomatisasi memang mengancam sejumlah profesi konvensional, tetapi di saat yang sama juga membuka peluang karier baru. 

Merujuk laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF), diperkirakan ada 170 juta lapangan kerja baru yang tercipta secara global hingga 2030, meskipun 92 juta pekerjaan lain berpotensi tergeser.

​Pekerjaan rutin seperti entri data, administrasi umum, dan layanan perbankan dasar kini mulai digantikan sistem digital. Sebaliknya, permintaan tenaga ahli di bidang analisis data, keamanan siber, AI, hingga energi terbarukan melambung tinggi.

​“Mahasiswa tidak perlu khawatir menghadapi perubahan teknologi. Justru harus melihat peluang baru yang muncul. Pertanyaannya, apakah keterampilan yang kita miliki sudah sesuai dengan kebutuhan dunia kerja lima tahun mendatang?” ujarnya.

Baca: Kupas Tuntas Kisah Ganjar Pranowo saat Jadi Anggota DPR RI

​Guna menjawab tantangan tersebut, Wibowo mendorong generasi muda untuk lebih bijak mengelola waktu dalam mengoperasikan tenggat gadget dan media sosial. Menurutnya, pemanfaatan gawai secara terarah dapat menjadi investasi keterampilan yang berharga.

​“Kalau satu jam sehari digunakan untuk belajar bahasa Inggris, analisis data, AI, atau keterampilan lainnya, dalam setahun sudah terkumpul 365 jam belajar. Ini bukan soal berapa lama kita menggunakan gadget, melainkan apa yang kita hasilkan dari waktu tersebut,” papar Wibowo.

​Ia menambahkan, di era industri modern, perusahaan dan institusi lebih melihat bukti nyata dibanding selembar sertifikat. Oleh karena itu, Wibowo mengajak mahasiswa aktif membangun portofolio konkret melalui program magang, penelitian, riset terapan, organisasi, hingga proyek pengabdian masyarakat.

Quote