Jakarta, Gesuri.id - Bupati Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Endah Subekti Kuntariningsih, meresmikan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Sendowo Kidul, Kelurahan Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, sebagai upaya mendekatkan akses pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat.
"Poskesdes dibangun untuk mendekatkan layanan kesehatan dasar kepada masyarakat, khususnya di wilayah Sendowo Kidul dan sekitarnya," katanya, Senin (10/8/2026).
Peresmian Poskesdes tersebut sekaligus menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mengampanyekan peningkatan perilaku hidup sehat kepada masyarakat. Endah berharap keberadaan fasilitas kesehatan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh warga.
Dalam kesempatan tersebut, Endah juga meluncurkan program Taman Gizi yang bertujuan menyediakan bahan pangan sehat dan bergizi bagi masyarakat sekitar.
Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Pertanian dan Pangan sebagai salah satu upaya menekan angka stunting di wilayah Gunungkidul.
"Kami berikan stimulan berupa bibit ikan lele dalam galon serta bibit sayuran kepada kader Posyandu dan Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk memerangi stunting dari level rumah tangga," ujarnya.
Menurut Endah, peningkatan pelayanan kesehatan dan berbagai program pendukung perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mencegah berbagai persoalan kesehatan, termasuk stunting yang masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah.
"Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi juga soal kecerdasan," katanya.
Ia menyebut prevalensi stunting di Kapanewon (Kecamatan) Nglipar masih cukup tinggi, yakni mencapai 20 persen atau berada di atas rata-rata kabupaten.
Karena itu, Endah menekankan pentingnya pencegahan stunting dilakukan sejak masa kehamilan melalui pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai.
"Penanganan stunting harus dimulai sejak kehamilan dengan pemenuhan protein, vitamin, dan mineral yang cukup," katanya.
Selain stunting, Endah mengatakan layanan kesehatan dan program pendukung juga dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi kasus hipertensi yang cukup tinggi di Gunungkidul. Berdasarkan data yang disampaikan, prevalensi hipertensi di wilayah tersebut mencapai 39,25 persen.
"Anak muda, terutama para lansia, harus hidup dengan aktif dan bahagia agar terhindar dari kelelahan pikiran yang berpotensi menyebabkan hipertensi," ujarnya.
Endah juga menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Saat ini, penerapan PHBS di Gunungkidul dinilai baru dilakukan oleh sekitar 33 persen masyarakat.
"Menjaga sanitasi, kebersihan kamar mandi, dan pengelolaan sampah rumah tangga guna menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak," ujarnya.
Menurut Endah, peningkatan akses layanan kesehatan harus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat. Dengan demikian, keberadaan Poskesdes tidak hanya menjadi tempat mendapatkan pelayanan kesehatan, tetapi juga dapat menjadi pusat edukasi dan penguatan kesadaran masyarakat mengenai pola hidup sehat.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap kolaborasi antara pemerintah, kader kesehatan, kelompok masyarakat, dan warga dapat terus diperkuat agar berbagai persoalan kesehatan, mulai dari stunting, hipertensi hingga persoalan sanitasi dan kebersihan lingkungan, dapat ditangani secara lebih efektif.

















































































