Ikuti Kami

Waspada Peredaran 'Pil Sapi' di Luar Sekolah, Diduga Ada 'Backing' di Balik Warung Ilegal

Fenomena ini dinilai mengkhawatirkan lantaran aksesnya yang sangat mudah dan harganya yang terjangkau bagi anak sekolah.

Waspada Peredaran 'Pil Sapi' di Luar Sekolah, Diduga Ada 'Backing' di Balik Warung Ilegal
Anggota DPR RI, Vita Ervina.

Jakarta, Gesuri.id – Anggota DPR RI, Vita Ervina, menyoroti maraknya penyalahgunaan obat keras yang dikenal dengan sebutan "pil sapi" di kalangan pelajar. 

Fenomena ini dinilai mengkhawatirkan lantaran aksesnya yang sangat mudah dan harganya yang terjangkau bagi anak sekolah.

Dalam pernyataannya, Vita mengungkapkan bahwa dirinya banyak menerima laporan dari daerah pemilihan (dapil) terkait keberadaan warung-warung yang menjual obat tersebut di lokasi yang sangat dekat dengan lingkungan sekolah.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

"Saya mendapat laporan, sekarang banyak pil yang dinamakan pil sapi disalahgunakan oleh anak-anak sekolah. Jarak warungnya pun sangat dekat dengan sekolah, entah ini memang sebuah strategi (pengedar) atau bagaimana," ujar Vita.

Vita juga menengarai adanya praktik "kucing-kucingan" antara penjual dengan aparat penegak hukum. Berdasarkan laporan warga, warung yang sempat ditutup karena kedapatan menjual obat ilegal tersebut kerap beroperasi kembali dalam waktu singkat.

Hal ini memicu kecurigaan adanya perlindungan dari pihak tertentu atau "backing" yang membuat peredaran obat ini sulit diberantas secara permanen.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

"Sudah dilaporkan dan sempat ditutup, tapi kemudian buka lagi. Ini ada indikasi memang ada backing-an di baliknya, sehingga perlu mendapat perhatian serius," tegasnya.

Secara medis, pil sapi sebenarnya merupakan obat penenang yang diperuntukkan bagi hewan. Namun, karena harganya yang murah, obat ini beralih fungsi menjadi narkotika bagi remaja. Penggunaan obat yang tidak sesuai peruntukannya ini berdampak langsung pada kondisi psikis penggunanya.

"Kita melihat akhirnya ada perubahan perilaku dari anak-anak. Mereka jadi sering marah-marah secara tidak wajar. Ini kemungkinan besar merupakan dampak dari penggunaan obat-obat tersebut," jelas Vita.

Quote