Jakarta, Gesuri.id – Sambutan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno atau biasa disapa Bang Doel, dalam peringatan 30 tahun Peristiwa Kudatuli menjadi salah satu momen paling emosional dalam rangkaian Public Lecture bertajuk "Jalan Buntu Reformasi" di Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (18/7).
Dengan penuh penghayatan, Bang Doel mengaku datang membawa dua perasaan, yakni perasaan pulang ke rumah kebudayaan yang membesarkan karier seninya dan perasaan berutang kepada para pejuang demokrasi yang menjadi korban Serangan 27 Juli 1996.
"Banyak orang mengenal saya sebagai Si Doel. Dulu saya kira itu hanya cerita keluarga. Makin tua saya makin sadar, Si Doel itu cerita politik," kata Rano.
Ia menjelaskan, kisah Si Doel sesungguhnya menggambarkan kehidupan rakyat kecil yang hidupnya terpinggirkan pembangunan, tetapi tetap percaya bahwa pendidikan, kerja keras, dan harga diri mampu mengubah nasib.
Menurut Rano, sinetron Si Doel yang tayang pada dekade 1990-an ternyata berjalan beriringan dengan situasi politik Indonesia ketika rakyat kecil yang menginginkan perubahan justru menghadapi tekanan kekuasaan.
"Sinetron itu tayang pada tahun-tahun ketika di dunia nyata orang-orang kecil yang percaya pada perubahan sedang dikepung," ujarnya.
Rano kemudian menghubungkan momentum tersebut dengan Serangan 27 Juli 1996 terhadap Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta.
"Orang-orang yang bertahan di dalamnya bukan jenderal, bukan orang kaya, bukan elite. Mereka dipukuli, ada yang hilang, dan sampai hari ini keluarganya masih menunggu keadilan," katanya.
Dengan jujur, Rano mengakui dirinya bukan korban langsung Kudatuli karena saat itu masih berkecimpung di dunia hiburan. Namun justru karena itulah ia merasa memiliki utang moral kepada para pejuang demokrasi.
"Saya tidak berhak memakai penderitaan mereka sebagai jubah. Tapi justru karena itu saya merasa berutang," ucapnya.
Menurut Rano, perjalanan politiknya hingga dipercaya menjadi Wakil Gubernur Jakarta tidak dapat dilepaskan dari perjuangan mereka yang mempertahankan demokrasi pada 27 Juli 1996.
"Partai yang membesarkan saya, PDI Perjuangan, lahir dari rahim peristiwa itu. Demokrasi yang memungkinkan seorang seniman dipilih rakyat dibayar dengan tubuh orang-orang yang bertahan di Diponegoro," tegasnya.
Menutup sambutannya, Rano mengingatkan bahwa ancaman terbesar terhadap semangat Kudatuli saat ini bukan lagi kekerasan, melainkan hilangnya ingatan sejarah.
"Hari ini mungkin pesan itu perlu kita lengkapi: lawan lupa, lawan jalan buntu, lawan diri sendiri ketika mulai nyaman dengan ketidakadilan," pungkasnya.
#30tahunkudatuli
#Diponegoro58
#PDIPerjuangan #MegawatiSoekarnoPutri

















































































