Ikuti Kami

Adian: Rakyat Bukan Obyek Jual Beli Suara Saat Pemilu

Rakyat harus diorganisir dan menjadi subyek bernegara, berkomunikasilah dengan baik kepada rakyat.

Adian: Rakyat Bukan Obyek Jual Beli Suara Saat Pemilu
Politisi muda PDI Perjuangan, Adian Napitupulu yang juga anggota DPR RI saat mendampingi Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menghadiri rapat kerja daerah (Rakerda) PDI Perjuangan Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Sabtu (3/12). (istimewa)

Banjarmasin, Gesuri.id - Politisi muda PDI Perjuangan, Adian Napitupulu yang juga anggota DPR RI menegaskan para anggota dan kader PDI Perjuangan harus melihat rakyat secara terhormat, bukan sekedar obyek jual beli suara saat pemilu. Rakyat harus diorganisir dan menjadi subyek bernegara, berkomunikasilah dengan baik kepada rakyat.

Baca: Sekjen Hasto: Tiga Pilar Partai Buka Jalan ke Pemilu 2024

Demikian disampaikannya bersama Bane Raja Manalu, saat mendampingi Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menghadiri rapat kerja daerah (Rakerda) PDI Perjuangan Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, Sabtu (3/12).

Adian Napitupulu berbicara di hadapan ratusan kader utama PDI Perjuangan se-Kalsel dengan tema membangun dedikasi dan semangat juang kader partai. Menurut Adian, seluruh anggota dan kader PDI Perjuangan adalah aktivis pergerakan yang tugasnya cuma satu, yakni mengorganisir rakyat.

“Karena tanpa mengorganisir diri dan rakyat, kita bukan siapa-siapa. Kalau kita sendiri, kita bukan siapa-siapa,” kata Adian.

“Bagaimana cara mengorganisir rakyat? Uang bukanlah jawabannya. Suara rakyat tak perlu dibayar dengan uang amplop. Rakyat tak boleh jadi obyek jual beli, rakyat itu terhormat,” tegasnya.

Maka langkah pertama, kata Adian, hilangkan dulu pikiran bahwa rakyat yang kita wakili hanya sekedar diberi amplop berisi uang. Kedua, berbuat yang terbaik kepada rakyat, maka rakyat takkan bertanya apa agama dan suku, namun akan bisa melihat ketulusan dari tindakan.

Adian lalu bercerita panjang tentang apa yang dia lakukan di Pongkor, Bogor, Jawa Barat. Dimana Adian menginisiasi warga Pongkor untuk membentuk koperasi. Sehingga dibolehkan menambang atas Ijin Usaha Pertambangan (IUP) di Pongkor yang dimiliki BUMN. Rakyat yang dulunya ditangkapi, setelah diorganisir, dilatih manahemen, tata cara menambang yang memenuhi stabdar keselamatan, dan kemudian bergabung di dalam koperasi. Koperasi dengan anggota yang telah dilatih tsb kini sudah boleh menambang. Bahkan kata Adian, dalam 6 bulan ke depan, koperasi rakyat ini sudah akan mengolah sendiri. 

“Saya lakukan bukan demi suara. Tapi sederhana, berbuat baik ke rakyat dan rakyat akan tahu siapa yang berbuat baik dengan tulus,” ujar Adian.

Begitupun dengan pengorganisasian rakyat di Cileungsi untuk memiliki tanah yang dulu dikuasai oleh yayasan yang terafiliasi Soeharto. “Tanah tersebut setelah melalui perjuangan panjang, menjadi tanah untuk rakyat," ujar Adian.

Adian juga menberi contoh di Lebak Wangi, Bogor, dimana rakyat desa diorganisir untuk memanfaatkan waduk menjadi sumber penghidupan. Hasiknya, hari ini 144 desa rakyat desa bekerja di sana, dengan 22 orang anak muda Karang Taruna digaji dari BumDes yang mengelolanya.

“Ini bukti bahwa ketika kita mau mengorganisir rakyat desa menjadi subyek bukan obyek, itu bisa. Rakyat harus jadi subyek bernegara, harus diorganisir agar semakin besar keterlibatannnya dalam bernegara. Itulah tugas kita,” kata Adian.

“Saya berharap kita sebagai kader PDI Perjuangan harus berbeda dengan kader partai lain. Kita harus perbaiki dan ubah cara kita mengorganisir rakyat. Supaya suatu saat rakyat akan mengatakan, dalam pemilu, saya memilih orang baik, bukan memilih amplop,” tegasnya.

Sementara Bane Raja Manalu memberi materi tentang komunikasi politik. Menurut Bane, kemampuan mengorganisir rakyat lewat berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat, harus sejalan dengan kemampuan berkomunikasi politik. 

“Tentu apa yang diucapkan dan disampaikan harus sejalan dengan apa yang dilakukan, seperti apa yang dikatakan oleh Bung Karno. Apa yang dilakukan di lapangan harus terkomunikasikan ke masyarakat luas. Berceritalah sebelum disebut bercerita itu menjadi haram,” kata Bane.

Menurut Bane, mengambil kisah dari Adian, kerja mengorganisasi penambang di Pongkor sdalah daya juang yang akan dilihat oleh rakyat, dan akan berwujud menjadi pilihan politik saat pemilu.

“Kita harus mampu mengorkestrasi kebaikan dan mampu menyampaikannya kepada masyarakat lebih luas. Militansi dalam mewujudkan hal ini jangan ditunda lagi. Kita harus menata kebenaran yang disampaikan lewat media, sebagai tempat menyampaikan tatanan kebenaran tersebut,” urai Bane.

Soal media, Bane mengatakan PDI Perjuangan memang tidak memiliki media massa sendiri. Namun semua anggota dan kader PDI Perjuangan bisa membangun jejaring ke media massa, hingga memanfaatkan media sosial yang sata ini sangat digandrungi anak muda.

“Maka sejak sekarang semua peristiwa yang mengorganisir rakyat seharusnya ada muncul di media sosial,” kata Bane.

Sementara Hasto menekankan bahwa kuncinya adalah spirit agar bagaimana semua kader bergerak dengan penuh rasa cinta kepada rakyat.

Baca: DPP PDI Perjuangan Gelar FGD Dukung Percepatan RUU PPRT

“Kuncinya adalah spirit, bagaimana kita bergerak penuh rasa cinta kepada rakyat. Dan itu harus dilakukan oleh kita semua, khususnya para anggota dewan kita, semua harus bergerak memberdayakan rakyat,” kata Hasto.

“Kunci kemenangan kita adalah terus bangun struktur partai kita sebagai mesin poltiik. Percaya pada struktur. Bangun struktur yang berdikari. Latihlah kader punya kesadaran di bidang ekonomi. Organisir rakyat. Model pemberdayaan harus diperkuat dan makin kreatif. Semoga ini jadi inspirasi pergerakan kita, kader PDI Perjuangan harus bergerak secara kreatif turun ke rakyat,” pungkas Hasto.

Quote